Faktakalbar.id, CARACAS – Operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026), menjadi jawaban telak atas tantangan terbuka yang pernah dilontarkan pemimpin sosialis tersebut.
Baca Juga: Trump Unggah Foto Presiden Venezuela di Kapal Perang AS
Maduro ditangkap langsung oleh pasukan AS saat sedang tertidur di kamarnya bersama sang istri, sebuah skenario yang ironisnya pernah ia minta sendiri lima bulan lalu.
Kilas balik pada 12 Agustus 2025, suasana panas menyelimuti Istana Miraflores.
Saat itu, Maduro menggelar konferensi pers merespons rilis Departemen Luar Negeri AS. Dengan nada tinggi, ia menantang Presiden AS Donald Trump untuk datang langsung menangkapnya.
“Datanglah padaku. Aku akan menunggu di sini, di Miraflores. Jangan terlalu lama, pengecut,” tantang Maduro kala itu.
Harga Kepala 50 Juta Dolar
Ketegangan bermula ketika pada 7 Agustus 2025, Departemen Luar Negeri dan Departemen Kehakiman AS mengumumkan peningkatan hadiah hingga 50 juta dolar AS bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Ia dituduh melanggar hukum narkotika AS dan disebut sebagai pemimpin Kartel de los Soles.
“The Department of State and the Department of Justice are announcing a reward offer increase of up to $50 million under the Narcotics Rewards Program (NRP) for information leading to the arrest and/or conviction of Nicolás Maduro for violating U.S. narcotics laws.,” bunyi rilis resmi tersebut.
AS juga menuding Maduro menggunakan kekuasaannya untuk mencekik demokrasi di Venezuela dan memfasilitasi perdagangan narkoba ke Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade.
Kartel de los Soles sendiri telah ditetapkan sebagai Teroris Global Khusus (SDGT) oleh Departemen Keuangan AS sejak Juli 2025.
















