“Hadiah: Jika puing pesawat ditemukan dan terverifikasi, Malaysia siap menggelontorkan dana US$70 juta (sekitar Rp 1,1 Triliun)., Risiko: Jika gagal, Ocean Infinity pulang dengan tangan hampa tanpa bayaran sepeser pun., Misi: Menyisir area baru seluas 15.000 km persegi di Samudra Hindia selama 55 hari,” rincinya.
Teori “Controlled Ditching”
Optimisme baru dalam pencarian ini dipicu oleh temuan peneliti Universitas Tasmania, Vincent Lyne.
Dalam publikasinya bertajuk Mystery of MH370 Solved by Science, Lyne membantah teori pesawat kehabisan bahan bakar.
Baca Juga: Gudang Penampungan Barang Diduga Selundupan Malaysia di Bengkayang Terbakar Hebat
Ia meyakini insiden ini adalah aksi pendaratan air terkontrol (controlled ditching) yang disengaja oleh pilot Zaharie Ahmad Shah.
Target penyisiran difokuskan pada area Broken Ridge di Samudra Hindia Tenggara.
Lokasi ini digambarkan sebagai “tempat persembunyian sempurna” karena memiliki lubang sedalam 20.000 kaki dengan medan terjal dan penuh sedimen, yang membuat deteksi sonar biasa menjadi sangat sulit.
Lebih mencengangkan, lokasi ini diklaim cocok dengan data jalur penerbangan yang ditemukan di simulator rumah milik pilot, sebuah bukti digital yang sebelumnya sempat diabaikan oleh FBI.
Harapan Keluarga Korban
Kabar dimulainya kembali pencarian ini menjadi angin segar bagi keluarga korban, termasuk Danica Weeks, istri salah satu penumpang asal Australia.
Bagi para keluarga, operasi ini bukan sekadar masalah uang, melainkan upaya menutup luka batin dan mendapatkan jawaban pasti atas tragedi yang terjadi lebih dari satu dekade silam.
(ra)










