“Hingga kini, identitas para terduga pelaku masih dalam tahap penyelidikan (lidik) oleh Polda Kalimantan Barat,” tambahnya.
Akibat kejadian pada Selasa (30/12/2025) tersebut, tercatat delapan orang telah melapor ke kepolisian pada malam kejadian. Korban mengalami berbagai luka fisik, mulai dari lebam, memar di kepala, hingga cedera punggung akibat diseret. Di antara korban terdapat perempuan dan ibu-ibu yang merupakan ahli waris.
Pihak kuasa hukum telah membuat laporan polisi (LP) di Polda Kalimantan Barat dan meminta semua pihak menghormati proses hukum yang berjalan.
Baca Juga: Niat Hibah Berujung Sengketa, Rohendy Tjondro Banding: Air Susu Dibalas Air Tuba
Kesaksian Korban Pengeroyokan
Teguh Tessa Nurdjajadi, yang menjadi korban sekaligus saksi mata, menceritakan pengalaman traumatis yang dialaminya.
Ia menduga para pelaku sengaja mengincar bagian vital tubuh korban. Teguh mengaku dipukul menggunakan helm dari arah depan dan belakang hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
“Saya dipukul dari arah depan dan belakang menggunakan helm. Tidak hanya saya, anak perempuan, istri, dan anak laki-laki saya juga menjadi korban pengeroyokan dan diseret ke lokasi yang berbeda-beda,” ungkap Teguh.
Ia menambahkan bahwa setiap korban dikeroyok oleh dua hingga enam orang. Akibatnya, anak bungsunya mengalami luka sabetan di perut yang terekam dalam hasil visum, meski jenis senjata yang digunakan masih didalami.
Selain itu, istri Teguh yang sebelumnya dalam masa pemulihan kaki, kini kondisinya memburuk akibat didorong keras oleh pelaku.
Teguh juga mengalami lebam di rusuk kiri dekat jantung yang menurut dokter berpotensi fatal jika terjadi benturan lanjutan.
Saat ini, seluruh bukti medis dan rekaman video telah diserahkan kepada penyidik untuk mengusut tuntas kasus dugaan penyerangan preman tersebut.
(RN)
















