“Pada bulan September 1959, S-79 tiba di Surabaya. Di sana, serah terima dilakukan. Bendera Angkatan Laut Uni Soviet diturunkan, dan Merah Putih dikibarkan. S-79 resmi berganti nama menjadi RI Nanggala,” tulis arsip sejarah.
Ujung Tombak Trikora
Di bawah komando perwira Indonesia pertamanya, O.P. Koesno, RI Nanggala langsung terjun ke kawah candradimuka.
Antara tahun 1960 hingga 1962, sang “Hiu Kencana” aktif melakukan patroli senyap dalam Operasi Trikora.
Kehadirannya menjadi teror psikologis dan ancaman nyata bagi armada Belanda, sekaligus menjadi ujung tombak blokade laut di perairan Irian Barat.
Seiring berjalannya waktu, RI Nanggala terus beradaptasi dengan doktrin pertempuran yang berubah.
Meriam haluan yang menjadi ciri khas kapal selam era Perang Dunia II akhirnya dicopot.
Modifikasi ini dilakukan untuk membuat kapal lebih streamline (ramping) dan senyap saat menyelam, mengutamakan kecepatan dan kemampuan siluman di bawah permukaan ketimbang duel artileri di permukaan.
“Oleh karena itu, meriam haluannya dicopot (dilucuti) untuk membuatnya lebih ramping (streamline) dan tidak bising saat menyelam,” jelas catatan teknis kapal tersebut.
(Ra)










