Faktakalbar.id, KAIRO – Angkatan Udara Mesir mencatatkan satu dekade pengoperasian jet tempur Rafale varian EM/DM sejak pertama kali berdinas pada Juni 2015.
Kehadiran pesawat tempur buatan Prancis ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Mesir dalam mendobrak pembatasan teknologi avionik dan persenjataan yang selama ini diberlakukan Amerika Serikat terhadap armada F-16 mereka.
Baca Juga: Lulus Gemilang, Pilot TNI AU Rampungkan Latihan Jet Tempur Rafale di Prancis
Langkah strategis mengakuisisi Rafale diambil setelah Amerika Serikat menolak memberikan akses persenjataan dan avionik setara F-16 Israel kepada Mesir.
Akibatnya, armada F-16C/D Mesir mengalami ketertinggalan fitur yang signifikan dibandingkan negara tetangganya tersebut.
“Israel tidak mau F-16 Mesir memiliki persenjataan dan avionik yang setara dengan F-16 israel tersebut,” ungkap laporan analisis militer.
Lompatan Teknologi Signifikan
Dengan mengoperasikan Rafale, Angkatan Udara Mesir mendapatkan keuntungan teknologi yang masif.
Salah satunya adalah adopsi rudal MICA EM, yang menjadi rudal udara-ke-udara berpemandu Active Radar Homing (ARH) atau Fox-3 pertama yang dimiliki Mesir.
Sebelumnya, F-16 Block 30-52 mereka hanya bergantung pada rudal AIM-7M berteknologi semi-aktif (Fox-1).










