Hilangnya Generasi Emas
Dampak paling fatal dari Tragedi Mandor bukan hanya pada jumlah korban jiwa, melainkan target operasi Jepang yang menyasar kaum terpelajar.
Daftar korban mencakup Sultan Pontianak (Sultan Syarif Muhammad Alkadrie), Pangeran Bendahara, pemuka agama, dokter, pengacara, wartawan, hingga guru. Pembunuhan sistematis ini menyebabkan Kalimantan Barat kehilangan generasi emas.
Akibatnya, pasca kemerdekaan, Kalbar sempat mengalami kekosongan kepemimpinan dan tenaga ahli karena kaum intelektualnya telah habis.
Keberagaman Korban
Tragedi Mandor menunjukkan bahwa kekejaman penjajah tidak memandang suku atau agama. Para korban berasal dari berbagai latar belakang etnis di Kalimantan Barat, mulai dari Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Bugis, hingga Arab.
Tentara Jepang menguburkan jenazah korban secara massal dalam lubang-lubang besar di Mandor. Kini, lokasi tersebut dikenal sebagai Makam Juang Mandor. Monumen ini berdiri tegak sebagai saksi bisu kekejaman fasisme sekaligus simbol persatuan darah para pejuang Kalbar.
Setiap tahunnya, Gubernur Kalimantan Barat dan masyarakat melakukan upacara penghormatan di Makam Juang Mandor. Warga mengibarkan bendera setengah tiang pada setiap tanggal 28 Juni sebagai simbol penolakan lupa.
Baca Juga: https:Niat Menuntut Ilmu Berujung Duka, Siswa SMK 1 Mandor Tewas di Kolong Truk
Memahami sejarah Tragedi Mandor bukan untuk menanamkan dendam, melainkan untuk menyadari betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.
(*Sari)












