Nasib Inong Balee dan Anak Korban Saat Konflik Aceh

Benteng Inong Balee, didirikan oleh Laksamana Keumalahayati tahun 1599 (Dok. Ist)
Benteng Inong Balee, didirikan oleh Laksamana Keumalahayati tahun 1599 (Dok. Ist)

Trauma Anak di Zona Perang

Selain kaum ibu, anak-anak adalah korban yang masa depannya terenggut. Konflik bersenjata merampas dua hak dasar mereka, rasa aman dan pendidikan.

B gedung sekolah terbakar yang menyebabkan ribuan anak putus sekolah. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan lahirnya generasi yang hilang (lost generation).

Secara psikologis, anak-anak yang tumbuh di era DOM rentan mengalami trauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mereka terbiasa mendengar suara tembakan dan menyaksikan kekerasan sejak dini. Memori kolektif ini membekas kuat dan memengaruhi mental mereka hingga dewasa.

Baca Juga: Rekam Jejak Sejarah Gerakan Aceh Merdeka

Pasca-damai Helsinki 2005, Aceh berbenah. Keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh menjadi upaya penting untuk memulihkan hak-hak korban sipil.

Kisah Inong Balee dan anak-anak Aceh menjadi pengingat bahwa damai bukan sekadar berhenti perang, melainkan pemulihan martabat manusia yang terluka.

(*Sari)