Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Sejarah konflik Aceh tidak hanya soal perang antara tentara dan gerilyawan. Di balik data korban jiwa, terdapat kisah pilu warga sipil yang paling rentan: perempuan dan anak-anak.
Selama masa Daerah Operasi Militer (DOM) hingga Darurat Militer, ribuan perempuan dan anak di Aceh menanggung beban berat. Laporan dari lembaga hak asasi manusia dan studi sosial menyoroti dampak mendalam perang terhadap kelompok ini.
Inong Balee: Tulang Punggung Keluarga
Dampak paling nyata dari konflik berkepanjangan ini adalah banyaknya perempuan yang menjadi Inong Balee (janda). Dalam konteks sosial Aceh saat itu, istilah ini melekat pada perempuan yang suaminya tewas atau hilang akibat pertempuran.
Baca Juga: Warga Aceh Kibarkan Bendera GAM di Tengah Bencana Banjir
Hilangnya kepala keluarga memaksa para Inong Balee mengambil peran ganda. Studi sosiologi konflik mencatat, mereka harus mencari nafkah di tengah situasi keamanan yang mencekam, sekaligus melindungi anak-anak seorang diri. Beban ekonomi dan psikologis ini menciptakan lapisan kemiskinan baru yang sulit terurai di wilayah bekas konflik.
Laporan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa perempuan Aceh kerap menjadi sasaran kekerasan di masa konflik.
Tubuh perempuan sering kali menjadi objek intimidasi untuk meneror komunitas. Laporan Amnesty International era 1990-an juga mendokumentasikan pola kekerasan fisik dan psikis terhadap warga sipil. Kondisi ini meninggalkan trauma mendalam yang sering kali tidak terucap karena stigma sosial.













