Monopoli Listrik tapi “Boncos”? Utang PLN Tembus Rp711 Triliun, Laba Malah Anjlok

Ilustrasi jaringan transmisi listrik (Sutet) milik PLN dengan inset Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Center for Budget Analysis (CBA) menyoroti lonjakan utang perseroan yang mencapai Rp711 triliun pada 2024. (Dok. Ist)
Ilustrasi jaringan transmisi listrik (Sutet) milik PLN dengan inset Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Center for Budget Analysis (CBA) menyoroti lonjakan utang perseroan yang mencapai Rp711 triliun pada 2024. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, JAKARTA – Kinerja keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN tengah menjadi sorotan tajam.

Sebagai perusahaan pelat merah yang memegang hak tunggal (monopoli) bisnis kelistrikan di Indonesia, PLN justru mencatatkan rapor keuangan yang dinilai sulit diterima akal sehat: utang semakin menggemuk, sementara keuntungan justru merosot tajam.

Baca Juga: Perkuat Sinergi dan Transparansi, PLN Indonesia Power UBP Sungai Batu Gelar Media Gathering Bersama Jurnalis Sanggau

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menyebut kondisi ini sebagai anomali.

Ia mempertanyakan bagaimana perusahaan dengan hak monopoli bisa mengalami penurunan laba di saat beban utangnya meroket.

“Sulit diterima akal sehat, perusahaan yang diberikan hak monopoli bisnis namun keuangannya malah babak belur. Utang naik sementara cuan atau untungnya anjlok,” ujar Uchok dalam keterangannya.

Utang Naik Rp156 Miliar Sehari

Berdasarkan data yang dipaparkan CBA, total utang PLN pada tahun 2024 telah menembus angka psikologis Rp711,2 triliun.

Angka ini melonjak signifikan sebesar Rp56,2 triliun dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp655 triliun.

Uchok merincikan, jika dibedah, kenaikan utang PLN setara dengan Rp4,7 triliun per bulan. Bahkan dalam hitungan harian, utang perseroan bertambah ratusan miliar rupiah.

“Dibagi 30 hari, utangnya naik Rp156,7 miliar dalam sehari,” papar Uchok.

Kenaikan beban utang ini terjadi di kedua sektor.

Utang jangka pendek naik dari Rp143,1 triliun (2023) menjadi Rp172 triliun (2024). Sementara utang jangka panjang membengkak dari Rp511,8 triliun menjadi Rp539,1 triliun.

Laba Tergerus Drastis

Ironisnya, lonjakan utang tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan profitabilitas. Laba PLN justru dilaporkan terjun bebas.

Baca Juga: PLN Sanksi Kontraktor Nakal Pembuat Pondasi Tiang Listrik Campur Kelapa

Pada tahun 2023, PLN mampu membukukan laba Rp22 triliun, namun pada 2024 angkanya turun menjadi Rp17,7 triliun.