Mitos Introvert dan Ekstrovert yang Sering Salah Kaprah

Tertawa bersama di keramaian tidak selalu menandakan seseorang adalah ekstrovert. Introvert pun menikmati interaksi sosial, namun dengan durasi energi yang berbeda dari rekan mereka. (Dok. Ist)
Tertawa bersama di keramaian tidak selalu menandakan seseorang adalah ekstrovert. Introvert pun menikmati interaksi sosial, namun dengan durasi energi yang berbeda dari rekan mereka. (Dok. Ist)

2. Ekstrovert Tidak Bisa Menjadi Pendengar Baik

Sering dianggap egois atau ingin mendominasi percakapan, faktanya banyak ekstrovert memiliki empati tinggi. Perbedaan utamanya hanya terletak pada proses berpikir.

Psikolog menjelaskan bahwa ekstrovert memproses pikiran saat berbicara (speak to think), berbeda dengan introvert yang memproses pikiran sebelum berbicara (think to speak). Hal ini tidak serta-merta menghilangkan kemampuan mereka untuk mendengar dengan baik.

3. Manusia Hanya Terbagi Dua Kubu

Ini adalah mitos terbesar yang perlu diluruskan. Psikolog Edmund S. Conklin telah memperkenalkan istilah Ambivert sejak tahun 1923. Ia menggambarkan bahwa manusia berada dalam spektrum, bukan kotak mati.

Ambivert adalah orang yang memiliki fleksibilitas untuk menikmati keramaian namun juga menghargai kesendirian dalam porsi yang seimbang. Tidak ada manusia yang 100% introvert atau 100% ekstrovert.

Baca Juga: Perbedaan Introvert dan Ekstrovert Menurut Psikologi

Memahami fakta ini membantu kita untuk lebih menghargai perbedaan karakter tanpa terjebak pada label yang menyesatkan.

(*Sari)