Faktakalbar.id, ANKARA – Kabar duka menyelimuti dunia militer internasional. Panglima Militer Libya, Letnan Jenderal Mohammed Al-Haddad, dilaporkan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat tragis yang terjadi di wilayah Turki.
Insiden nahas tersebut terjadi pada Selasa malam (23/12) di distrik Haymana, selatan Ankara, tak lama setelah pesawat lepas landas dari Bandara Esenboga.
Pesawat jenis Falcon 50 yang membawa rombongan VIP tersebut jatuh saat hendak kembali ke Tripoli, Libya.
Diketahui, rombongan Jenderal Al-Haddad baru saja menyelesaikan kunjungan resmi dan pertemuan tingkat tinggi dengan Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler.
Berdasarkan laporan awal, pesawat sempat mengalami gangguan teknis berupa masalah kelistrikan dan hilang kontak sekitar 40 menit setelah mengudara sebelum akhirnya ditemukan jatuh.
Daftar Korban Petinggi Militer
Kecelakaan ini menjadi pukulan telak bagi angkatan bersenjata Libya karena merenggut nyawa sejumlah pejabat teras strategis.
Selain Panglima Militer, kecelakaan ini juga menewaskan Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen Al-Fitouri Ghraibil.
Baca Juga: Langit Dubai Berduka: Manuver ‘Split-S’ Terakhir Tejas Mk1A Akhiri Hidup Sang Komandan
Berikut daftar pejabat yang gugur dalam insiden tersebut:
-
Letjen Mohammed Al-Haddad – Kepala Staf Umum Angkatan Darat Libya.
-
Letjen Al-Fitouri Ghraibil – Kepala Staf Pasukan Darat.
-
Brigjen Mahmoud Al-Gatawi – Direktur Otoritas Manufaktur Militer.
-
Mohammed Al-Asawi Diab – Penasihat Kepala Staf Umum.
-
Mohammed Omar Ahmed Mahjoub – Fotografer Kantor Media Kepala Staf Umum.
Investigasi dan Pemulangan Jenazah
Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, telah mengonfirmasi penemuan puing-puing pesawat di lokasi kejadian.
Otoritas setempat juga telah menunjuk tim jaksa untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan fatal ini.
Sementara itu, sebuah komite khusus dari Libya telah diterbangkan dari Tripoli menuju Turki.
Baca Juga: Provokasi di Langit Okinawa: Radar China Kunci Jet Tempur Jepang, Asia Timur Memanas
Tim ini bertugas berkoordinasi dengan otoritas Turki untuk investigasi, penyelesaian prosedur hukum, serta mengawasi proses repatriasi (pemulangan) jenazah para korban.
Pemerintah Libya segera mengumumkan masa berkabung nasional sebagai penghormatan terakhir atas gugurnya para pimpinan militer mereka dalam tugas negara.
(Ra)
















