Rayakan HUT ke-44, DPD HARPI “Melati” Kalbar Didorong Beradaptasi dengan Tren Modern dan Kolaborasi MUA

"Harpi-DPD-Kalbar"
Jajaran DPD HARPI "Melati" Kalbar berfoto bersama usai prosesi tumpengan HUT ke-44 dan Hari Ibu ke-97 di Hotel G, Pontianak, Selasa (23/12/2025).

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Ahli Rias Pengantin (HARPI) “Melati” Provinsi Kalimantan Barat menggelar perayaan hari jadi ke-44 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ibu ke-97. Acara yang dipusatkan di Hotel G, Selasa (23/12/2025) ini menjadi ajang penting untuk memperkuat posisi perias pengantin tradisional di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan ini dimeriahkan dengan Lomba Kebaya Nasional (Kutu Baru) dan parade pengantin tradisional khas Kalimantan Barat. Selain sebagai ajang pelestarian budaya, acara ini juga menyoroti pentingnya inovasi dalam industri tata rias.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Kalimantan Barat, Herkulana Mekarryani, memberikan apresiasi sekaligus pesan strategis bagi para anggota HARPI. Ia menyoroti dinamika tren kecantikan saat ini yang sangat dipengaruhi oleh gaya luar.

“Saat ini kita melihat tren tata rias yang sangat dinamis, seperti pengaruh gaya Korean Look maupun teknik Makeup Artist (MUA) artis yang sangat diminati pasar. Saya berharap HARPI ‘Melati’ dapat terus relevan dengan menjalin kerja sama yang erat dengan para MUA muda,” ujar Herkulana.

Baca Juga: HARPI MELATI Kalbar Sukses Gelar Seminar dan Lomba Rias Pengantin Tradisional 

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci.

“Sinergi antara pakem rias pengantin tradisional dengan inovasi modern akan menciptakan standar baru yang luar biasa. Ini bukan hanya soal kecantikan, tapi juga bagian dari pemberdayaan ekonomi perempuan agar tetap mandiri dan berdaya di era digital,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua DPD HARPI “Melati” Kalbar, Hj. Herawati, menegaskan bahwa usia 44 tahun merupakan bukti konsistensi organisasi dalam menjaga marwah budaya.

“Peringatan HUT ke-44 ini adalah momentum bagi kami untuk terus melestarikan budaya bangsa melalui tata rias pengantin tradisional. Meskipun kita terbuka terhadap perkembangan zaman, identitas nasional melalui busana kebaya dan pakem rias daerah harus tetap menjadi akar yang kuat,” tegas Hj. Herawati.

Baca Juga: IKA FH UM Pontianak Gelar Simposium Negarawan, Perkuat Sinergi Implementasi KUHP Nasional di Kalbar

Acara dimulai dengan tari persembahan dan laporan panitia, diikuti dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Para peserta kemudian menampilkan keahlian mereka dalam peragaan busana kebaya nasional dan parade pengantin daerah.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan piala dan piagam kepada para pemenang lomba sebagai apresiasi atas dedikasi mereka dalam melestarikan budaya Indonesia.

(*Red)