Sasar Jalur Penyeberangan Warga
Tragedi terjadi ketika militer menargetkan dermaga dan titik penyeberangan sungai.
Pada 17 Desember lalu, lima jet tempur junta menghujani dua dermaga di kotapraja Khin-U, wilayah Sagaing.
Serangan tersebut menewaskan tujuh orang dan melukai 15 lainnya. Para korban merupakan warga sipil yang mencoba menyeberang untuk menghindari konflik di Singu.
Pihak junta bahkan merilis bukti foto udara yang memperlihatkan serangan terhadap iring-iringan kendaraan warga di atas tongkang.
Terkait strategi militer ini, seorang sumber di lapangan memberikan keterangan kepada The Irrawaddy.
“Rezim menyerang di tepi barat untuk memutus jalur pelarian dari sisi timur sungai,” ujar sumber tersebut, Selasa (23/12/2025).
Kuasai Kembali Infrastruktur Vital
Selain operasi di Singu, militer Myanmar juga mengklaim telah menguasai Jembatan Yadanar Thein Kha pada Senin pagi.
Jembatan ini memiliki peran vital karena menghubungkan Wilayah Mandalay ke kota Kyauk Myaung di Sagaing.
Sebelumnya, pasukan PDF meledakkan sebagian jembatan ini pada akhir Oktober untuk menghambat pergerakan pasukan junta.
Kembalinya kendali junta atas kota-kota seperti Singu, Thabeikkyin, Madaya, dan Patheingyi menandakan adanya operasi serangan balik berskala besar.
Operasi ini menggunakan kekuatan serangan udara penuh yang memicu pengungsian massal warga sipil.
Baca Juga: Pemerintah Beri Penghargaan untuk Tim Kemanusiaan Pascabencana di Vanuatu dan Myanmar
Kondisi keamanan di sepanjang Sungai Irrawaddy saat ini masih belum kondusif. Blokade jalan dari Shwebo menuju kota Sagaing juga masih berlangsung sejak pekan lalu.
Sejak militer menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021, Myanmar terus mengalami pergolakan.
Konflik bersenjata antara militer dan kelompok perlawanan telah meluas ke berbagai wilayah negara tersebut.
(*Sari)
















