Faktakalbar.id, BANDAR LAMPUNG – Ratusan tahun silam, di perairan Riau–Lingga dan Selat Malaka, nama Raja Haji Fisabilillah adalah mimpi buruk bagi VOC Belanda.
Keberaniannya yang menyala-nyala membuat penjajah menyematkan julukan “Raja Api”, “Perompak”, hingga menyamakannya dengan bangsa Viking yang ganas di lautan Eropa.
Kini, di era modern, sang “Raja Api” seolah bereinkarnasi. Bukan dalam wujud manusia, melainkan dalam bentuk raksasa baja penjaga samudera.
TNI Angkatan Laut resmi menyematkan nama pahlawan besar tersebut pada kapal perang terbarunya: KRI Raja Haji Fisabilillah-391.
Karya Anak Bangsa Bernilai Rp1 Triliun
Kapal jenis Offshore Patrol Vessel (OPV) 90M ini bukan sekadar kapal patroli biasa.
Dibangun oleh tangan-tangan terampil putra bangsa di galangan kapal swasta PT Daya Radar Utama (kini PT Noahtu Shipyard) di Bandar Lampung, kapal ini menelan nilai kontrak mencapai Rp1,079 triliun.
Secara fisik, KRI Raja Haji Fisabilillah tampak mengintimidasi, selaras dengan nama besar yang disandangnya.
Baca Juga: Milestone Alutsista: PT PAL Luncurkan Frigat Arrowhead 140 Pertama, Target Serah Terima 2028
Memiliki panjang 98 meter, lebar 13,5 meter, dan tinggi 6,9 meter, kapal ini ditenagai empat unit mesin diesel yang mampu memacu kecepatan hingga 28 knot.
Spesifikasi “Fregat” dalam Tubuh OPV
Jika Raja Haji Fisabilillah di masa lalu dikenal karena strategi perangnya yang mematikan di Selat Malaka, maka KRI bernomor lambung 391 ini juga dibekali “taring” yang tak kalah tajam.
Meskipun berstatus kapal patroli, persenjataannya setara dengan Fregat Ringan.
Kapal ini menggendong meriam utama Oto Melara 76mm Super Rapid Gun dan kanon reaksi cepat Rheinmetall Millennium 35mm untuk menghalau ancaman udara.
Yang paling menakutkan, kapal ini dilengkapi dua peluncur rudal anti-kapal Atmaca dan sistem pertahanan elektronik canggih dari Italia.
Menjaga Warisan Sejarah
Pemilihan nama Raja Haji Fisabilillah bukan tanpa alasan. Sosok Yang Dipertuan Muda Riau IV ini adalah simbol perlawanan fisik terhadap dominasi asing di jalur perdagangan tersibuk dunia.
Kehadiran KRI Raja Haji Fisabilillah (391) yang diluncurkan pada September 2024 ini diharapkan mampu meneruskan semangat sang pahlawan: menjaga kedaulatan laut Indonesia dari segala ancaman, layaknya sang “Raja Api” yang dahulu tak gentar menghadapi armada Belanda di lautan Nusantara.
(Ra)















