Krisis Mangsa Ancam Populasi Harimau Sumatra di Leuser

Sebagai karnivora, Harimau Sumatra sangat bergantung pada ketersediaan satwa mangsa. Krisis mangsa di hutan dapat mendorong mereka masuk ke permukiman dan memicu konflik. (Dok. Ist)
Sebagai karnivora, Harimau Sumatra sangat bergantung pada ketersediaan satwa mangsa. Krisis mangsa di hutan dapat mendorong mereka masuk ke permukiman dan memicu konflik. (Dok. Ist)

“Kehadiran mangsa utama menjadi penentu paling kuat dalam pemilihan habitat harimau Sumatra,” ujar Hadi.

Temuan ini mematahkan anggapan bahwa perlindungan harimau cukup dilakukan dengan menjaga kawasan hutannya saja.

Penelitian yang menggunakan metode pemodelan Random Forest dan Maximum Entropy (MaxEnt) ini membuktikan bahwa mangsa dan tutupan hutan harus berjalan beriringan.

“Kedua algoritma memperlihatkan bahwa mangsa dan hutan adalah kombinasi kunci yang meningkatkan peluang kehadiran harimau Sumatra,” tambahnya.

Memicu Konflik Manusia dan Satwa

Krisis ketersediaan mangsa membawa dampak domino yang berbahaya. Ketika stok makanan di dalam hutan menipis, harimau akan terdorong keluar dari habitat alaminya menuju wilayah permukiman.

Baca Juga: Pekerja Asal Sambas Tewas Diterkam Harimau di Pelalawan

Kondisi inilah yang kerap memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

Oleh karena itu, upaya konservasi di kawasan seluas 830 ribu hektare tersebut harus mencakup pemulihan rantai makanan, bukan sekadar patroli anti perburuan.

“Pemulihan populasi mangsa adalah langkah paling mendasar dalam menjaga keberlangsungan harimau Sumatra,” tegas Hadi menutup laporannya.

(*Sari)