-
Awal yang Lambat: “Awal lari harus lebih lambat untuk menjaga energi. Kalau di awal sudah ‘bakar’, jantung dan otot bisa kaget,” jelasnya.
-
Fungsi Pacing: Dengan pacing yang baik, produksi asam laktat dapat ditekan sehingga tubuh tidak cepat kolaps.
4. Kesiapan Non-Fisik: Tidur, Nutrisi, dan Hidrasi
Kesiapan pelari bukan hanya soal latihan fisik. Nutrisi, hidrasi, hingga pola tidur berperan besar.
-
Tabungan Tidur: Pelari disarankan memiliki “tabungan tidur” sebelum lomba untuk memastikan jantung dan tubuh berada pada kondisi terbaik. “Kurang tidur itu bikin heart rate naik duluan saat start,” kata Iwan.
-
Hidrasi & Nutrisi: Hidrasi dan pola makan harus teratur. Pilih makanan yang tidak memicu gangguan lambung atau diare menjelang race.
5. Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Iwan menegaskan, ada kondisi tertentu yang harus membuat pelari segera berhenti berlari. Tanda bahaya tersebut meliputi:
-
Nyeri dada hebat, menjalar ke punggung atau lengan
-
Sesak napas ekstrem
-
Jantung berdebar tidak teratur
-
Pandangan kabur atau rasa berputar
-
Keringat dingin, mual, muntah, atau kelelahan luar biasa
-
Kebiruan di ujung tangan akibat kekurangan oksigen
“Kalau sudah seperti itu, stop. Jangan dilanjutkan. Itu tanda tubuh tidak mampu lagi,” tegasnya.
6. Perlengkapan dan Mental
Sepatu harus dipilih sesuai medan. “Jangan pakai sepatu road running untuk naik gunung,” kata Iwan.
“Olahraga ketahanan itu 50 persen mental,” ujarnya, menegaskan mental memegang peran besar dalam keberhasilan menyelesaikan race.
Dengan persiapan yang benar serta memahami sinyal tubuh, pelari dapat meminimalkan risiko dan menjalani race dengan aman.
(*Drw)
















