Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Meninggalnya dua peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025 kembali memicu pertanyaan besar soal keamanan olahraga lari jarak jauh. Menurut dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K (Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis), banyak risiko kesehatan, mulai dari heat stroke, kolaps, hingga gangguan jantung, yang dapat dicegah jika pelari memahami persiapan fisik dan batas kemampuan tubuh.
1. Latihan Terstruktur: Minimal Dua hingga Tiga Bulan
Untuk mengikuti race, terutama jarak jauh seperti maraton atau trail run, tubuh tidak boleh “dipaksa” tanpa persiapan.
-
Durasi: “Pelari perlu latihan rutin minimal dua sampai tiga bulan sebelum naik race.
Latihan harus terstruktur, bukan asal kuat,” kata Iwan. -
Adaptasi Lingkungan: Persiapan juga harus mencakup adaptasi di kondisi lingkungan yang mirip dengan lokasi lomba, misalnya tempat dengan kadar oksigen lebih rendah atau area bersuhu panas, agar tubuh tidak kaget.
2. Jangan Abaikan Pemeriksaan Kesehatan Jantung
Risiko Kematian Saat Lari Ultra sering kali dipicu oleh kondisi jantung yang tidak bergejala.
-
Pentingnya Check-up: “Jantung itu tidak bisa bicara. Dia hanya memberi sinyal ketika sudah kelelahan,” ujar Iwan.
-
Wajib Deteksi Dini: Pelari dianjurkan rutin medical check-up, termasuk pengecekan jantung, kadar elektrolit, hingga kebugaran dasar.
3. Strategi Pacing dan Pengelolaan Energi
Baca Juga: Jangan Langsung Berhenti! Ini Pentingnya Pendinginan Setelah Olahraga Menurut Dokter
Strategi pacing (pengaturan kecepatan) adalah salah satu penentu keselamatan yang sering diabaikan, di mana pelari sering terbawa emosi start awal.
















