Jebakan Maskulinitas: 5 Dampak Patriarki yang Diam-diam Menghancurkan Laki-laki

"Ternyata patriarki tidak hanya menindas perempuan. Simak 5 dampak patriarki yang jarang disadari merugikan kesehatan mental dan kehidupan sosial laki-laki."
Ternyata patriarki tidak hanya menindas perempuan. Simak 5 dampak patriarki yang jarang disadari merugikan kesehatan mental dan kehidupan sosial laki-laki. (Dok. Ist)

Akibatnya, persahabatan antar laki-laki sering kali hanya bersifat transaksional atau berbasis aktivitas (nonton bola, main game, ngopi), tanpa kedalaman emosional.

Banyak laki-laki yang tidak punya tempat curhat saat sedang rapuh karena takut dihakimi teman-temannya sendiri.

Isolasi sosial ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri pada laki-laki di berbagai negara.

4. Kehilangan Momen Emas dengan Anak

Stigma bahwa “mengasuh anak adalah tugas ibu” membuat banyak laki-laki terasing di rumahnya sendiri.

Patriarki menjauhkan ayah dari kedekatan emosional dengan anak-anaknya.

Laki-laki yang ingin terlibat aktif mengurus bayi sering kali dicemooh (“suami takut istri”) atau dianggap hanya “membantu” (babysitting), bukan “mengasuh” (parenting).

Kerugian jangka panjangnya? Hubungan ayah dan anak yang kaku dan berjarak hingga usia tua.

5. Keengganan Mencari Bantuan Medis

Konsep “Laki-laki harus kuat” membuat laki-laki cenderung mengabaikan rasa sakit fisik maupun mental.

Pergi ke dokter atau psikolog sering dianggap sebagai pengakuan atas kekalahan atau kelemahan tubuh.

Data statistik kesehatan sering menunjukkan bahwa laki-laki memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah dibanding perempuan, salah satunya karena kebiasaan menunda pengobatan akibat gengsi maskulinitas yang ditanamkan patriarki.

Menentang patriarki bukan berarti membenci laki-laki.

Justru sebaliknya, meruntuhkan budaya patriarki adalah upaya membebaskan laki-laki dari tuntutan mustahil untuk selalu menjadi “superhero“.

Laki-laki juga manusia biasa yang berhak menangis, berhak merasa lelah, dan berhak memiliki hubungan emosional yang hangat tanpa takut kehilangan maskulinitasnya.

Baca Juga: Agar Anak Tak Tumbuh Jadi Sosok Patriarki, Terapkan 5 Pola Asuh Ini Sejak Dini

(*Mira)