Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Insiden meninggalnya dua peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025, Minggu (7/12/2025), kembali memunculkan pertanyaan besar tentang risiko kematian mendadak saat berlari.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa aktivitas lari tetap menyimpan potensi bahaya jika kondisi tubuh tidak dipahami dengan benar.
Baca Juga: Pentingnya Pemanasan Sebelum Olahraga 5-10 Menit: Dokter Jelaskan Manfaat dan Gerakan Dinamis
Lalu, mengapa seseorang bisa tiba-tiba meninggal saat lari?
1. Risiko Utama: Henti Jantung Mendadak
Dokter sekaligus Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis, dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, menjelaskan bahwa Penyebab Kematian Mendadak Saat Lari yang paling sering terjadi adalah gangguan jantung akut, terutama pada individu yang tidak sadar memiliki masalah jantung sebelumnya.
-
Masalah Terpicu: Kelainan seperti aritmia, penyempitan pembuluh darah, atau kelainan bawaan struktur jantung dapat terpicu oleh aktivitas intens.
-
Kelewatan Golden Time: “Ketika jantung dipaksa bekerja melebihi kapasitas, Risiko Henti Jantung Saat Lari meningkat. Kalau golden time pertolongan terlewat, peluang selamatnya sangat kecil,” kata Iwan.
2. Dehidrasi dan Kehilangan Elektrolit
Lari jarak jauh membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Jika tidak diganti, kondisi ini bisa berujung fatal.
-
Dampak Fatal: “Dehidrasi berat bisa memengaruhi kestabilan jantung dan fungsi organ lain. Pelari sering merasa ‘masih kuat’ padahal tubuhnya sudah lampu merah,” jelasnya.
-
Tanda Bahaya: Tanda-tandanya bisa berupa pusing, mual, meriang, dan lemas ekstrem.
“Begitu muncul gejala itu, harus berhenti. Jangan memaksakan diri,” tegasnya.
3. Cuaca Ekstrem Menambah Beban Tubuh
Dalam kejadian Siksorogo Lawu Ultra 2025, hujan deras membuat suhu tubuh pelari tidak stabil.
















