“Intoksikasi pangan sering terjadi karena kontaminasi mikroba. Untuk aspek kimia, biasanya terkait bahan tambahan seperti pengawet atau pewarna yang tidak sesuai standar,” jelas Jonedi.
Dinkes Sanggau berharap rantai distribusi makanan dapat terpantau secara menyeluruh dari hulu hingga ke tangan penerima manfaat untuk mencegah risiko keracunan atau gangguan kesehatan lainnya.
“Dari hulu ke hilir harus berjalan baik. Kita harapkan makanan yang diproduksi aman, sehat, dan tidak menimbulkan dampak pada kesehatan penerima,” tambahnya.
Senada dengan Dinkes, Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Dahliansyah, menekankan pentingnya edukasi bagi tenaga penyaji.
Baca Juga: Sidak Dapur MBG Sanggau: Satgas Temukan Limbah Dibuang ke Sungai & Ruangan Pengap
Pemahaman mengenai praktik higiene mutlak diperlukan untuk menjaga kualitas program makanan bergizi bagi anak-anak.
“Kita ingin manfaat MBG benar-benar dirasakan. Tidak hanya meningkatkan gizi anak, tapi juga menjamin keamanan pangan bagi mereka,” kata Dahliansyah.
Melalui pengawasan ketat terhadap penyajian makanan massal, diharapkan program perbaikan gizi di Kabupaten Sanggau dapat berjalan optimal tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan masyarakat.
(Ariya)
















