Dari Aceh untuk Dunia, Siswa Fajar Harapan Bagi Kisah Ketangguhan Tsunami 2004 di Jepang

Delegasi siswa Indonesia bersama peserta internasional berfoto bersama dalam High School Student Youth Summit on World Tsunami Awareness Day 2025 di Sendai, Jepang. (Dok. KBRI Tokyo)
Delegasi siswa Indonesia bersama peserta internasional berfoto bersama dalam High School Student Youth Summit on World Tsunami Awareness Day 2025 di Sendai, Jepang. (Dok. KBRI Tokyo)

Faktakalbar.id, BANDA ACEH – Kisah kebangkitan Aceh pasca-bencana dahsyat dua dekade silam kini menjadi inspirasi global.

Tiga siswa terpilih dari SMA Negeri 10 Fajar Harapan UGT Banda Aceh sukses membawa nama Indonesia ke panggung internasional dalam ajang High School Student Youth Summit on World Tsunami Awareness Day 2025 di Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang, Senin (01/12/25).

Baca Juga: Hanya Selemparan Batu dari Taiwan, Rencana Jepang ‘Bentengi’ Pulau Yonaguni Bikin China Murka

Kehadiran delegasi Aceh di Sendai, Kota yang juga memiliki sejarah kelam terkait tsunami memiliki makna simbolis yang kuat.

Dalam forum bergengsi tersebut, para siswa tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga berkontribusi aktif membagikan pengalaman lokal Aceh dalam penanganan dan mitigasi bencana Tsunami 2004 kepada delegasi dari berbagai negara.

Selama satu pekan penuh, para duta muda ini digembleng dengan berbagai materi kesiapsiagaan bencana.

Agenda kegiatan meliputi simulasi mitigasi, workshop interaktif, kunjungan lapangan ke situs-situs bencana di Jepang, hingga presentasi kolaboratif.

Pertukaran pengetahuan ini dinilai sangat krusial. Pengalaman Aceh yang telah bangkit dari keterpurukan menjadi studi kasus nyata tentang ketangguhan (resilience) yang menginspirasi peserta lain.

Baca Juga: Jalan Darat Putus Total, Helikopter BNPB Jadi ‘Malaikat Penyelamat’ Warga Terisolir di Aceh Tengah

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa generasi muda Indonesia mampu mengubah trauma masa lalu menjadi kekuatan diplomasi dan edukasi di forum global.

Di tengah berbagai tantangan bencana yang masih kerap melanda tanah air, partisipasi siswa SMAN 10 Fajar Harapan ini menjadi pengingat penting akan urgensi budaya sadar bencana.

Ilmu dan jejaring yang didapatkan dari Negeri Sakura diharapkan dapat dibawa pulang untuk memperkuat sistem mitigasi di Aceh dan Indonesia pada umumnya.

(ra)