Faktakalbar.id, LIFESTYLE – “Kita menari di atas bangkai…”
Penggalan lirik dari lagu Tarian Penghancur Raya milik grup musik rock .Feast seolah kembali terngiang kencang di telinga kita.
Lagu yang dirilis beberapa tahun silam ini bukan sekadar musik keras penghentak telinga, melainkan sebuah “ramalan” sosiologis tentang hubungan manusia dan alam yang kian retak.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang baru-baru ini meluluhlantakkan wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya seakan menjadi videoklip nyata dari lagu tersebut.
Kerusakan ekologis, alih fungsi lahan, hingga ketidakpedulian kolektif menjadi benang merah yang menghubungkan karya seni ini dengan tragedi di lapangan.
Berikut adalah 5 kaitan menohok antara pesan dalam lagu Tarian Penghancur Raya dengan realitas bencana ekologis di Sumatera Utara:
1. Kritik Terhadap Eksploitasi Alam yang Masif
Dalam Tarian Penghancur Raya, .Feast menyindir keras kerakusan manusia yang terus mengeruk bumi demi keuntungan semata.
Hal ini tercermin nyata di Sumatera Utara. Bencana banjir bandang sering kali dipicu oleh pembabatan hutan di wilayah hulu.
Hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan air berubah fungsi menjadi perkebunan monokultur atau area tambang.
Ketika hujan ekstrem turun, tanah yang “telanjang” tak mampu lagi menahan air, mengirimkan lumpur dan bahaya ke pemukiman warga di hilir.
2. “Menari di Atas Bangkai” dan Ketimpangan Nasib
Lirik ikonik “Kita menari di atas bangkai” menggambarkan ironi di mana sebagian pihak berpesta pora (meraup untung dari eksploitasi alam), sementara rakyat kecil menjadi korban (bangkai).
Dalam konteks bencana Sumut, realitas ini terasa perih.
Para pelaku perusakan lingkungan baik penebang liar maupun korporasi nakal sering kali hidup aman dan jauh dari lokasi bencana.
Sementara itu, warga desa yang menjaga alam justru yang harus kehilangan rumah, harta benda, bahkan nyawa akibat ulah pihak lain.
















