Bento adalah representasi sosok arogan yang merasa kebal hukum karena memiliki bekingan kekuasaan.
Lagu ini menyindir monopoli dan keserakahan elit yang menumpuk kekayaan dengan cara menindas, seolah hukum bisa dibeli dengan uang dan koneksi politik.
4. Galang Rambu Anarki (1982)
Lagu ini terdengar sangat personal karena menggunakan nama anak Iwan Fals, namun konteksnya adalah kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.
Lagu ini dirilis bertepatan dengan momen kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencekik rakyat kecil.
Lewat liriknya, Iwan Fals memotret ironi di mana harga susu anak melambung tinggi akibat inflasi dan kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat, membuat orang tua harus berjuang ekstra keras hanya untuk memenuhi gizi anak.
5. Bongkar (1989)
Jika ada satu lagu yang menjadi “lagu kebangsaan” perlawanan di jalanan, itulah Bongkar.
Lagu ini secara eksplisit menyuarakan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dan sistem yang menindas.
Liriknya mengajak masyarakat untuk tidak diam melihat ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa.
Kata “Bongkar!” menjadi seruan untuk meruntuhkan sistem yang bobrok dan menggantinya dengan keadilan.
6. Manusia Setengah Dewa (2004)
Berbeda dengan lagu lainnya yang bernada marah, lagu ini lebih terdengar sebagai surat terbuka atau pesan langsung kepada Presiden (pemimpin negara).
Iwan Fals meminta pemimpin untuk bersikap adil, bermoral, dan benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan politik semata.
Judul “Setengah Dewa” menyiratkan harapan tinggi rakyat kepada pemimpinnya untuk bisa menyelesaikan masalah yang kompleks, sekaligus sindiran halus bahwa pemimpin harus memiliki sifat pengasih dan bijaksana layaknya dewa, namun tetap membumi sebagai manusia.
Baca Juga: Playlist Perlawanan: 4 Lagu Efek Rumah Kaca yang Bikin Kuping Penguasa ‘Panas’
(*Mira)
















