Hadapi Tantangan Air Gambut hingga Pencurian, PDAM Pontianak Terus Optimalkan Layanan

Jajaran manajemen PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak. Direktur Utama, Abdullah (kanan), menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mengoptimalkan layanan air bersih meski dihadapkan pada tantangan kondisi alam dan teknis. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Jajaran manajemen PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak. Direktur Utama, Abdullah (kanan), menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mengoptimalkan layanan air bersih meski dihadapkan pada tantangan kondisi alam dan teknis. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak terus berupaya mengoptimalkan pelayanan air bersih bagi masyarakat, meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan berat, baik dari faktor alam maupun teknis.

Baca Juga: Periode 2025-2030, Perumda Tirta Khatulistiwa Usahakan Angka Kebocoran Menurun

Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa, Abdullah, mengungkapkan bahwa kondisi geografis Pontianak yang didominasi tanah gambut menjadi salah satu kendala utama dalam menjaga kualitas air baku, Selasa (2/12/2025).

Abdullah menjelaskan, saat musim hujan tiba, struktur tanah gambut menyebabkan air Sungai Kapuas sebagai sumber air baku menjadi berwarna.

Hal ini menuntut proses pengolahan yang lebih ekstra agar air yang didistribusikan tetap layak konsumsi.

“Pertama kayak pada saat musim hujan ini, karena cara struktur tanah kita kan itu kebanyakan gambut, sehingga itu mempengaruhi dari kualitas baku kita. PDAM, sumber air bakunya Sungai Kapuas, jadi itu menyebabkan kalau sudah musim hujan itu bewarna,” jelas Abdullah.

Intrusi Air Laut

Sebaliknya, pada saat musim kemarau, tantangan berubah menjadi intrusi air laut.

Baca Juga: Direktur Utama Perumda Tirta Khatulistiwa Ungkap Tantangan Air Baku: Gambut hingga Intrusi Air Laut

Jarak instalasi pengolahan air yang berjarak sekitar 20 kilometer dari muara membuat pasokan air baku rentan terkontaminasi air asin jika kemarau berlangsung hingga satu bulan.

Penertiban Pencurian Air

Selain faktor alam, masalah non-teknis seperti pencurian air juga masih menjadi pekerjaan rumah. Abdullah mengakui bahwa temuan kasus pencurian air masih terjadi hampir setiap bulan.

Menyikapi hal ini, pihaknya mengedepankan pendekatan persuasif melalui sosialisasi dan pemberitahuan, serta didukung oleh pendampingan dari kepolisian dan pemerintah daerah.

“Dan tadi beliau juga, Pak Wali, Pak BKPM, itu menyampaikan ada pendampingan-pendampingan PM, polisian, itu sudah kami lakukan juga,” imbuhnya.

Ke depan, manajemen PDAM berkomitmen untuk terus menekan tingkat kebocoran air guna meningkatkan efisiensi distribusi kepada pelanggan.

(Ra)