Opini  

Ketika Air Menggenang, Nurani Kita Terbangun: Hikmah Banjir Sumatra dan Amanah Menjaga Tanah untuk Anak Cucu

Kerusakan akibat banjir yang membawa material pohon dan lumpur di pemukiman rumah warga di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatra Barat, pada Kamis (27/11).
Kerusakan akibat banjir yang membawa material pohon dan lumpur di pemukiman rumah warga di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatra Barat, pada Kamis (27/11). Foto: HO/Faktakalbar.id

OPINI – Prihatin yang Melampaui Batas Geografis

Banjir besar yang melanda Aceh, Sumbar, dan Sumut kembali mengguncang kesadaran kita bahwa bencana di satu wilayah sesungguhnya adalah duka seluruh Nusantara.

Kalimantan Barat turut berduka dan prihatin, bukan sekadar karena empati, tetapi karena kita semua terikat dalam satu kesatuan ekologis dan kebangsaan.

Baca Juga: Bencana Sebagai Ayat dan Cermin Bangsa

Air yang tumpah bukan hanya membawa lumpur dan kayu gelondongan; ia membawa pesan, peringatan, dan hikmah tentang hubungan kita dengan alam.

Dalam literatur kebijakan kebencanaan modern, bencana selalu merupakan pertemuan tiga unsur: hazard (bahaya alam), vulnerability (kerentanan), dan exposure (paparan manusia dan infrastruktur) (Wisner et al., 2004).

Cuaca ekstrem mungkin memicu banjir, tetapi kerentanan ekologis deforestasi, alih fungsi lahan, rusaknya DAS yang membuat bencana menjadi tragedi.

Hikmah dari Sebuah Musibah

1. Pesan Ekologis: Luka-Luka di Hulu Sungai

Banjir Sumatra bukanlah fenomena dadakan. Ia adalah akumulasi luka ekologis yang menahun.

Penelitian oleh Garcia & Brown (2021) menunjukkan bahwa deforestasi di kawasan tropis meningkatkan surface runoff hingga 40–60%, menurunkan kapasitas tanah menyerap air, dan menaikkan risiko banjir bandang.

Wilayah hulu Aceh dan Sumbar berada di zona rawan longsor dan curah hujan orografis, sehingga hilangnya vegetasi mempercepat proses banjir.

Di banyak lokasi, hutan lindung berubah menjadi perkebunan, tambang, atau proyek yang tidak sensitif terhadap risiko hidrometeorologi. Ketika hutan hilang, integritas DAS runtuh.

Alam seakan berkata: “Aku telah memberi tanda-tanda, tetapi kalian tidak memperhatikannya.”

2. Pesan Spiritual: Amanah yang Terabai

Dalam Islam, musibah bukan selalu hukuman; ia juga peringatan, ujian, dan panggilan untuk sadar.
Allah berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum 30:41)

Ayat ini relevan secara ekologis dan filosofis. Ia tidak sekadar menyoroti prinsip sebab-akibat, tetapi juga tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah yang mengelola bumi.
Rasulullah SAW mengingatkan:

“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai pemakmur di dalamnya. Ia akan melihat bagaimana kalian mengelolanya.”
(HR. Muslim)

Banjir bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga cermin: sejauh mana kita telah mengabaikan amanah pemakmuran itu?

3. Pesan Sosial: Ketimpangan yang Mengemuka

Bencana selalu lebih berat bagi mereka yang paling miskin. Penelitian Cutter (2018) menegaskan bahwa komunitas miskin memiliki kerentanan sosial-ekonomi tertinggi, dengan akses minimal terhadap mitigasi risiko.
Ketika banjir datang, mereka kehilangan rumah, sawah, dan masa depan.
Musibah mengajarkan kita bahwa keadilan ekologis adalah bagian dari keadilan sosial.

Baca Juga: BNPB Kebut Pencarian Korban Hilang, Total 303 Orang Meninggal di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Menyulam Keinsafan Kolektif

1. Mengapa Kita Terkejut Pada Hal yang Telah Diperingatkan?

Di banyak daerah Indonesia, indikator lingkungan telah lama menunjukkan alarm keras:

Tutupan hutan Sumatra menyusut hingga lebih dari 50% sejak 1985 (Margono et al., 2014).

DAS kritis terus bertambah.

Debit puncak sungai meningkat, sementara kapasitas tampung menurun.

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id