Faktakalbar.id, KAPUAS HULU – Wajah perkebunan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, perlahan berubah. Tanaman Karet yang dulunya menjadi raja, kini mulai tergeser oleh pesona ‘Daun Surga’ alias Kratom (Mitragyna speciosa).
Bukan tanpa alasan, tanaman endemik ini dinilai memiliki dampak domino yang luar biasa, mulai dari mendongkrak devisa, menekan angka putus sekolah, hingga menjaga ekosistem sungai, Minggu (30/11/25).
Baca Juga: Tuntut Ganti Rugi Lahan Adat 606 Hektare, Warga Desa Bika Geruduk Kantor PT BIA di Kapuas Hulu
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Slamet Wahyono, mengungkapkan bahwa Kratom telah menjelma menjadi sentra produksi vital di Kapuas Hulu.
Nilai ekonominya yang tinggi membuat petani beralih, menciptakan lapangan kerja baru mulai dari penanaman, panen, hingga pasca-panen (remah/tepung).
“Manfaat sosial juga bisa kita lihat dari sisi itu. Petani akan memperoleh pemasukan, dan ini akan menurunkan angka putus sekolah yang biasanya terkendala pada penghasilan. Lebih jauh lagi tentunya akan berpengaruh pada penurunan kriminalitas juga, karena sibuk bertani,” ungkap Slamet dalam webinar riset tumbuhan obat.
Slamet menambahkan, pendapatan dari Kratom memungkinkan orang tua di daerah terpencil Kapuas Hulu untuk menyekolahkan anak mereka hingga ke jenjang pendidikan tinggi di luar kota.
Tak hanya urusan dompet, Kratom ternyata bersahabat dengan alam.
Sifat tanaman yang mampu tumbuh subur di bantaran sungai menjadikannya benteng alami penahan abrasi. Regenerasi daunnya yang cepat dan lebat juga berkontribusi mengurangi efek rumah kaca.
Baca Juga: Resmi! Ekspor Perdana Kratom dari Kalbar Diharapkan Bantu Petani dan Tambah Devisa Negara
“Sifat tanaman kratom sendiri mempunyai komoditi ekologi, ini bisa kita manfaatkan untuk mencegah terjadinya abrasi sungai,” tambahnya.
Secara medis tradisional, Kratom bukan barang baru. Riset BRIN menemukan jejak pemanfaatan Kratom di berbagai etnis nusantara.
Di Sulawesi Barat digunakan untuk obat diare, di Kalimantan Timur untuk perawatan pasca-persalinan dan penghalus wajah, hingga obat pegal linu dan pelancar haid di Kalimantan Utara.
Kini, ‘Daun Surga’ ini telah mendunia. Data BPS 2023 mencatat Amerika Serikat sebagai pengimpor terbesar dengan volume 4.694 ton senilai US$ 9,15 juta, membuktikan bahwa komoditas unggulan Kalbar ini memiliki posisi tawar kuat di pasar global.
(ra)
















