Di sini, patriarki bekerja dengan cara yang kejam: perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual justru yang berubah menjadi hantu gentayangan, bukan pelakunya.
Sosok Sundel Bolong mencerminkan bagaimana masyarakat sering kali melakukan victim blaming (menyalahkan korban).
Rasa malu dan trauma akibat kekerasan seksual diubah menjadi sosok monster yang menjijikkan, seolah-olah tubuh perempuan yang ternoda adalah sumber horor itu sendiri.
3. Wewe Gombel: Sisi Gelap Tuntutan Pengasuhan
Wewe Gombel dikisahkan sebagai hantu perempuan dengan payudara yang menjuntai, yang gemar menculik anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya.
Konon, semasa hidupnya ia adalah perempuan yang tidak bisa memiliki anak (mandul) dan diselingkuhi suaminya, kemudian menjadi gila dan mati bunuh diri.
Kisah ini adalah kritik keras terhadap beban ganda perempuan.
Di satu sisi, perempuan dituntut memberi keturunan; jika tidak bisa, ia dibuang.
Di sisi lain, hantu ini “menghukum” orang tua (biasanya ibu) yang abai pada anaknya.
Wewe Gombel adalah manifestasi dari tekanan sosial yang mewajibkan perempuan untuk menjadi pengasuh yang sempurna.
Melihat kembali cerita-cerita ini, mungkin rasa takut kita perlahan berubah menjadi rasa iba.
Hantu-hantu perempuan di Indonesia sejatinya adalah monumen kesedihan dari para perempuan yang semasa hidupnya tidak memiliki kuasa atas tubuh dan nasibnya sendiri.
Baca Juga: 5 Sisi Patriarki yang Terkuak di Drakor “Marry My Husband”
(*Mira)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id












