Bukan Sekadar Hiburan, Ini 5 Film Bertema Feminisme yang Ampuh Membuka Mata dan Menginspirasi

"Cari tontonan yang memberdayakan? Simak 5 rekomendasi film bertema feminisme terbaik yang menginspirasi soal kesetaraan gender dan kekuatan perempuan. Wajib tonton!"
Cari tontonan yang memberdayakan? Simak 5 rekomendasi film bertema feminisme terbaik yang menginspirasi soal kesetaraan gender dan kekuatan perempuan. Wajib tonton! (Dok. Ist)

Adaptasi novel klasik karya Louisa May Alcott oleh sutradara Greta Gerwig ini terasa sangat segar dan modern.

Mengisahkan empat bersaudari March—Meg, Jo, Beth, dan Amy—yang tumbuh di masa pasca-Perang Saudara Amerika.

Masing-masing memiliki impian berbeda: ada yang ingin menjadi penulis, pelukis, musisi, hingga ibu rumah tangga.

Mengapa ini feminis: Film ini menekankan bahwa menjadi feminis berarti memiliki kebebasan untuk memilih.

Jo March yang tomboi dan berambisi menjadi penulis sama validnya dengan Meg March yang memilih menikah dan mengurus keluarga.

Pesan utamanya adalah perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri dan mandiri secara ekonomi, apa pun jalur yang dipilihnya.

4. Legally Blonde (2001) – Mematahkan Stereotip “Si Cantik yang Bodoh”

Sering dianggap sekadar film komedi ringan, Legally Blonde sebenarnya membawa pesan feminis yang cerdas.

Elle Woods, seorang gadis yang identik dengan warna pink dan gaya hidup glamor, diputuskan pacarnya karena dianggap “terlalu pirang” (baca: bodoh) untuk menjadi istri seorang senator.

Elle kemudian membuktikan diri dengan berhasil masuk dan berprestasi di Harvard Law School.

Mengapa ini feminis: Film ini menantang misogini internal dan stereotip bahwa perempuan yang feminin dan menyukai fashion pasti tidak cerdas.

Elle Woods menunjukkan bahwa Anda bisa menjadi feminin, menyukai hal-hal “girly”, namun tetap cerdas, kompeten, dan menjadi pengacara yang hebat tanpa harus mengubah jati diri menjadi maskulin.

5. Kartini (2017) – Cahaya dari Dalam Negeri

Daftar ini tidak lengkap tanpa memasukkan pahlawan emansipasi Indonesia.

Film garapan Hanung Bramantyo ini mengisahkan perjuangan R.A. Kartini dalam mendobrak tradisi pingitan dan memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum bumiputera, khususnya perempuan, di era kolonial Belanda.

Mengapa ini feminis: Ini adalah fondasi feminisme di Indonesia.

Kartini menyadari bahwa kunci utama untuk membebaskan perempuan dari belenggu adat yang merugikan adalah melalui pendidikan dan akses literasi.

Film ini mengingatkan kita bahwa perjuangan kesetaraan di tanah air memiliki akar sejarah yang kuat dan masih relevan hingga kini.

Baca Juga: Seram atau Tragis? 3 Hantu Perempuan Indonesia Ini Ternyata Simbol Luka Budaya Patriarki

(*Mira)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id