Faktakalbar.id, LIFETSYLE – Kesenjangan antargenerasi (generation gap) selalu menjadi topik hangat.
Sering kali kita mendengar keluhan dari generasi Baby Boomers atau Gen X tentang perilaku Gen Z yang dianggap “lembek”, “kutu loncat”, atau “terlalu sensitif”.
Namun, jika dilihat dari kacamata yang lebih terbuka, apa yang dianggap sebagai “pemberontakan” oleh Gen Z sebenarnya adalah sebuah evolusi.
Mereka lahir di era digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, yang membentuk pola pikir adaptif.
Baca Juga: Bukan Egois, Ini 5 Alasan Logis dan Sehat Mengapa Gen Z Memilih Jalan Childfree
Banyak kebiasaan mereka yang kontroversial justru merupakan respons cerdas untuk memperbaiki kualitas hidup yang sempat terabaikan oleh generasi sebelumnya.
Berikut adalah 4 kebiasaan unik Gen Z yang sering disalahpahami, namun memiliki nilai positif yang kuat.
1. Berani Resign Demi Kesehatan Mental (Mental Health over Hustle)
Pandangan Lama: “Anak muda sekarang tidak loyal, sedikit-sedikit keluar kerja, tidak tahan banting.”
Sisi Positif Gen Z: Gen Z tidak mengagungkan hustle culture atau budaya gila kerja yang merusak diri.
Bagi mereka, pekerjaan adalah bagian dari hidup, bukan seluruh hidup.
Ketika mereka memilih mundur dari lingkungan kerja yang toxic (beracun), itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda tingginya kesadaran akan harga diri (self-worth).
Mereka mengajarkan kita bahwa kesehatan mental adalah aset yang lebih berharga daripada status jabatan semata.
Hal ini mendorong perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi.
2. Membahas Masalah Pribadi dan Terapi secara Terbuka
Pandangan Lama: “Kenapa masalah pribadi diumbar di medsos? Lebay, cari perhatian (caper).”
Sisi Positif Gen Z: Generasi ini adalah pemecah stigma.
Dulu, pergi ke psikolog atau merasa depresi dianggap tabu dan aib yang harus disembunyikan.
Gen Z dengan berani mendiskusikan trauma, kecemasan, dan terapi di ruang publik.
Keterbukaan atau vulnerability ini menciptakan sistem dukungan (support system) yang kuat. Mereka menormalisasi bahwa “tidak baik-baik saja itu wajar”.
Hasilnya? Kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental meningkat pesat berkat keberanian mereka bersuara.
3. Menerapkan Strict Boundaries (Batasan Tegas)
Pandangan Lama: “Dihubungi bos di luar jam kerja kok tidak mau balas? Malas banget.”
Sisi Positif Gen Z: Gen Z sangat menghargai waktu.
Mereka membedakan dengan tegas antara waktu profesional dan waktu pribadi.
Fenomena seperti Quiet Quitting (bekerja sesuai porsi gaji dan jobdesc) sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap eksploitasi kerja.
Mereka mengajarkan bahwa memiliki kehidupan di luar kantor adalah hak asasi.
Dengan batasan yang tegas ini, mereka justru mencegah burnout (kelelahan kronis), sehingga bisa bekerja lebih produktif dan kreatif saat jam kerja berlangsung.
4. Kritis dan Mempertanyakan Otoritas
Pandangan Lama: “Anak kecil kok suka membantah orang tua/atasan? Tidak sopan.”
Sisi Positif Gen Z: Gen Z tidak menelan informasi mentah-mentah hanya karena itu datang dari sosok yang lebih tua atau memiliki jabatan.
Mereka memiliki akses informasi tanpa batas, yang membuat mereka berpikir kritis.
Ketika mereka “membantah” atau bertanya “kenapa?”, itu sering kali bukan bentuk ketidaksopanan, melainkan keinginan untuk memahami logika di balik sebuah aturan.
Sikap kritis ini mendorong transparansi, keadilan, dan perubahan ke arah yang lebih baik dalam struktur keluarga maupun organisasi.
Mereka menuntut respect (rasa hormat) yang bersifat dua arah, bukan hierarki kaku.
Perbedaan cara pandang antargenerasi adalah hal yang wajar.
Alih-alih saling menghakimi, ada baiknya generasi yang lebih tua mencoba memahami konteks di balik perilaku Gen Z.
Ternyata, di balik label “kontroversial” tersebut, Gen Z sedang berjuang menciptakan dunia yang lebih sehat, inklusif, dan seimbang bagi kita semua.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Cuan, Ini 5 Alasan Gen Z Memilih Kerja Sambil Kuliah
(*Mira)
















