Presiden Instruksikan Penanganan Serius, Pemerintah Kirim Bantuan Jalur Udara untuk Korban Bencana di Sumatera

Suasana Rapat Tingkat Menteri membahas Percepatan Penanganan Bencana Banjir dan Tanah Longsor di wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat di ruang Pusdalops, Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (27/11).
Suasana Rapat Tingkat Menteri membahas Percepatan Penanganan Bencana Banjir dan Tanah Longsor di wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat di ruang Pusdalops, Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (27/11/2025). Foto: HO/Faktakalbar.id

“BNPB akan membentuk Posko Darurat di Tarutung. Dari posko ini, seluruh upaya penanganan bencana akan dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan baik,” ujar Suharyanto melalui sambungan daring.

Suharyanto menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue), serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.

“Seperti yang telah kita lakukan sebelumnya di Majenang (Cilacap) dan Banjarnegara, bahwa operasi pencarian dan pertolongan akan menjadi prioritas utama. Termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak,” jelasnya.

Selain itu, BNPB juga akan segera menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memitigasi curah hujan agar tidak memperparah kondisi di lapangan.

Wakil Menteri PUPR, Diana Kusumastuti, melaporkan bahwa pihaknya telah mengerahkan alat berat untuk membuka akses yang tertutup longsor, meskipun terkendala cuaca.

Baca Juga: Alarm Bahaya Deforestasi di Balik Duka 34 Warga Sumut yang Gugur, 52 Dinyatakan Hilang Dihantam Bencana

Tercatat empat jembatan putus di Aceh dan sekitar 20 titik longsor di Sibolga serta Tapanuli Tengah.

Dari sisi penyelamatan, Kepala Basarnas Muhammad Syafii, menyebutkan bahwa delapan operasi SAR sedang berjalan serentak di tiga provinsi untuk mengevakuasi warga yang terisolasi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Siklon Tropis Senyar menjadi pemicu utama cuaca ekstrem ini.

Meski siklon tersebut mulai melemah, BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih ada akibat aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), terutama di Mandailing Natal dan Sumatra Barat.

Menutup rapat, Menko PMK menegaskan bahwa status tanggap darurat yang telah ditetapkan oleh daerah menjadi landasan kuat bagi pusat untuk menggelontorkan bantuan maksimal.

“Masing-masing daerah sudah menetapkan kondisi darurat. Ini yang menjadi dasar untuk kita kemudian bisa bergerak cepat memberikan dukungan semaksimal mungkin dari pusat ke daerah,” pungkas Pratikno.

(*Red)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id