Akui ‘Dosa’ Deforestasi, Bahlil Sebut Tambang Tanpa Reklamasi Biang Kerok Banjir dan Longsor

"Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akui aktivitas tambang masa lalunya identik dengan tebang pohon. Ia menyebut pengelolaan tambang buruk jadi pemicu utama banjir dan longsor."
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akui aktivitas tambang masa lalunya identik dengan tebang pohon. Ia menyebut pengelolaan tambang buruk jadi pemicu utama banjir dan longsor. (Dok. Ist)

Ia menghubungkan langsung antara penggundulan hutan (deforestasi) demi tambang dan perkebunan dengan maraknya bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan ini.

“Dampaknya sekarang adalah apa yang terjadi ketika pertambangan dan perkebunan tidak ditata dan dikelola secara baik. Hal ini yang terjadi karena longsor, karena penggundulan hutan. Banjir juga mengalami hal yang sama,” tegasnya.

Banyak Lubang Tambang Ditinggalkan

Fakta lapangan yang dilihat Bahlil dari udara semakin memperkuat urgensi masalah ini.

Ia menemukan banyak area bekas tambang yang ditinggalkan begitu saja tanpa proses pemulihan (reklamasi) dan penghijauan kembali (reboisasi).

Kondisi tanah yang berlubang dan gundul ini menjadi “bom waktu” bagi lingkungan sekitar.

“Kalau belum (reklamasi), waduh,” keluhnya melihat kondisi tersebut.

Merespons kerusakan yang sudah terjadi, Bahlil kini mendesak agar izin pertambangan diperketat dengan syarat mutlak: pengusaha wajib menjaminkan biaya reklamasi di depan.

Langkah ini diambil agar pengusaha tidak lari dari tanggung jawab memulihkan hutan yang telah mereka babat.

“Supaya jangan sampai tambang, terus tinggalkan hutan,” pungkasnya.

Baca Juga: Bumi Sedang Tidak Baik-Baik Saja: 6 Buku Tentang Deforestasi yang Akan Membuka Matamu

(*Mira)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id