Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember adalah momen krusial untuk meningkatkan kesadaran kolektif.
Terkadang, kata-kata dalam berita atau buku belum cukup untuk menggambarkan kompleksitas trauma yang dialami korban kekerasan berbasis gender.
Di sinilah film mengambil peran. Sebagai medium visual-audio, film mampu memotret realitas pahit, budaya yang melanggengkan kekerasan, hingga perjuangan para penyintas dengan cara yang sangat viseral dan emosional.
Untuk menemani masa kampanye ini, berikut adalah 4 film berbobot yang wajib Anda tonton.
Baca Juga: Rekomendasi Film Akhir Pekan: 5 Kisah Putri Duyung Paling Ikonik Sepanjang Masa
Film-film ini mungkin tidak nyaman disaksikan, tetapi sangat penting untuk membuka mata kita terhadap realitas yang sering kali tersembunyi.
1. Promising Young Woman (2020)
Film ini adalah tamparan keras bagi budaya yang menormalisasi pelecehan seksual di bawah kedok “anak muda sedang mabuk”.
Promising Young Woman mengikuti kisah Cassie, seorang wanita cerdas yang masa depannya hancur setelah sahabatnya menjadi korban pemerkosaan dan tidak mendapatkan keadilan.
Film ini membongkar mitos “pria baik-baik” (nice guy) dan menyoroti bagaimana sistem dan lingkungan sosial sering kali lebih melindungi pelaku daripada mempercayai korban.
Ini adalah tontonan wajib untuk memahami apa itu rape culture (budaya pemerkosaan) di era modern.
2. She Said (2022)
Jika Anda ingin tahu bagaimana gerakan global #MeToo meledak, film ini adalah kronologinya.
Berdasarkan kisah nyata investigasi jurnalis New York Times, Jodi Kantor dan Megan Twohey, She Said memperlihatkan betapa sulit dan menakutkannya bagi korban untuk bersuara melawan predator seksual yang memiliki kekuasaan besar di industri Hollywood (Harvey Weinstein).
Film ini menekankan pentingnya jurnalisme yang beretika dan keberanian kolektif para penyintas untuk memutus rantai impunitas (kekebalan hukum) bagi pelaku kekerasan.
3. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
Dari lanskap sinema Indonesia, film karya sutradara Mouly Surya ini adalah representasi kuat tentang perlawanan perempuan di tengah budaya patriarki yang kental di pedesaan.
Berlatar di Sumba, film ini menceritakan Marlina, seorang janda yang rumahnya didatangi sekawanan perampok yang mengancam harta dan kehormatannya.
Marlina tidak pasrah; ia melawan balik dengan cara yang ekstrem untuk menuntut keadilan bagi dirinya sendiri ketika aparat hukum tidak bisa diandalkan.
Film ini adalah simbol agensi dan kemarahan perempuan yang selama ini dibungkam.
4. Women Talking (2022)
Film ini diadaptasi dari novel yang terinspirasi kisah nyata mengerikan di sebuah komunitas religius terisolasi di Bolivia.
Selama bertahun-tahun, para perempuan di komunitas tersebut dibius dan diperkosa saat tidur, lalu diberitahu bahwa itu adalah ulah “iblis” atau imajinasi mereka yang liar.
Ketika kebenaran terungkap, para perempuan ini berkumpul di lumbung padi untuk berdebat dan mengambil keputusan sulit: diam dan memaafkan, tetap tinggal dan melawan, atau pergi meninggalkan satu-satunya kehidupan yang mereka kenal.
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















