Darurat! Indonesia Jadi Target Utama Penipuan Lowongan Kerja di Asia Pasifik, Sektor Ini Paling Rawan

"Waspada, Indonesia menyumbang 62% kasus penipuan lowongan kerja di Asia. Pelaku kini gunakan AI dan menyasar sektor administrasi hingga logistik. Simak modus lengkapnya. "
Waspada, Indonesia menyumbang 62% kasus penipuan lowongan kerja di Asia. Pelaku kini gunakan AI dan menyasar sektor administrasi hingga logistik. Simak modus lengkapnya. (Dok. Ist)

Jika dipersempit khusus di kawasan Asia saja, kontribusi kasus penipuan di Indonesia bahkan mendominasi hingga 62 persen.

Operations Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Willem Najoan, menegaskan bahwa fenomena ini sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan.

Dampaknya bukan sekadar kerugian materi, tetapi juga keselamatan nyawa.

“Kita tidak lagi hanya berbicara soal kerugian finansial, tetapi juga risiko keamanan serius di mana job scam telah berevolusi menjadi pintu masuk kejahatan terorganisir seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menyasar warga Indonesia,” ujar Willem, Minggu (23/11/2025).

Sektor Paling Rawan Disusupi Penipu

Para pelaku kejahatan ini terbukti semakin canggih dalam memetakan korbannya.

Mereka mengincar sektor-sektor di mana pencari kerja merasa paling rentan atau membutuhkan pekerjaan dengan cepat.

Per Oktober 2025, tercatat lima kategori pekerjaan yang paling banyak dijadikan kedok penipuan di Indonesia:

  1. Administrasi & Dukungan Perkantoran (29,36%): Posisi favorit penipu adalah admin toko online, admin e-commerce, dan data entry.
  2. Manufaktur, Transportasi & Logistik (21,06%): Terutama menyasar posisi staf gudang.
  3. Ritel & Produk Konsumen (12,23%).
  4. Perdagangan & Jasa (7,98%).
  5. Perhotelan & Pariwisata (5,74%).

Modus Canggih Pakai AI dan Tugas ‘Like’ Medsos

Temuan SEEK juga menyoroti evolusi modus operandi pelaku yang kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat iklan lowongan kerja yang meyakinkan.

Mereka kerap menyamar sebagai pihak Jobstreet dan menghubungi korban lewat SMS atau media sosial.

Di Indonesia, modus yang paling marak adalah tawaran kerja paruh waktu (freelance) dengan tugas sederhana seperti memberikan like atau subscribe pada konten media sosial tertentu.

Skema ini biasanya diawali dengan membangun kepercayaan korban.

Setelah korban terjerat, pelaku akan meminta deposit uang atau top up dana dengan iming-iming komisi besar, yang pada akhirnya uang tersebut dibawa lari oleh pelaku.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergiur dengan tawaran kerja instan yang meminta sejumlah uang di muka, serta selalu memverifikasi keaslian lowongan melalui platform resmi.

Baca Juga: Tembus 1.721 Lowongan, Job Fair UMP “Career Clinic 2025” Buka Peluang Kerja Lintas Sektor

(*Mira)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id