Karya masterpiece-nya, Tetralogi Buru (dimulai dengan Bumi Manusia), ditulis saat ia berada dalam pengasingan di Pulau Buru.
Lewat tokoh Minke, Pramoedya mengajarkan kita tentang sejarah pergerakan nasional, perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial, dan pentingnya menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir.
Ini adalah bacaan “berat” yang akan mengubah cara pandangmu terhadap sejarah Indonesia.
4. Buya Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka adalah sosok ulama sekaligus sastrawan yang piawai meramu nilai agama dengan romansa dan adat budaya.
Novelnya yang paling fenomenal, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, telah diadaptasi ke layar lebar dan menjadi box office.
Hamka sangat jeli memotret benturan antara cinta suci Zainuddin dan Hayati dengan tembok tebal adat istiadat Minangkabau yang kaku pada masa itu.
Tulisannya indah, mendayu, namun sarat akan pesan moral.
5. W.S. Rendra
Dijuluki “Si Burung Merak”, Willibrordus Surendra Broto Rendra adalah paket lengkap: penyair, dramawan, dan pemeran teater.
Jika Sapardi bicara soal cinta yang lembut, Rendra seringkali menyuarakan kritik sosial yang tajam lewat sajak-sajak pamfletnya.
Namun, ia juga memiliki sisi romantis yang “nakal” lewat karya seperti Blues untuk Bonnie.
Membaca Rendra adalah membaca kegelisahan rakyat dan potret buram wajah sosial politik Indonesia pada masanya.
Membaca karya mereka bukan hanya untuk terlihat pintar, tetapi untuk memperkaya jiwa.
Lewat Sapardi kita belajar ketulusan, lewat Pram kita belajar perlawanan, dan lewat Chairil kita belajar keberanian.
Jadi, buku siapa yang akan kamu baca akhir pekan ini?
Baca Juga: Siapa itu Pramoedya Ananta Toer bagi Indonesia?
(*Mira)
















