“Kami terima laporan tadi sekitar jam 2 bahwasannya ada beras masuk di Sabang itu 250 ton tanpa izin dari pusat, tanpa persetujuan pusat,” ujar Amran di Jakarta Selatan.
Gerak Cepat Segel Gudang
Merespons laporan tersebut, Amran yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) langsung berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, mulai dari Kapolda, Kabareskrim, hingga Pangdam setempat.
Langkah tegas pun diambil dengan menyegel gudang penyimpanan milik PT Multazam Sabang Group.
“Langsung disegel ini (gudang) berasnya, enggak boleh keluar,” tegas Amran.
Ia memastikan tim gabungan masih bekerja di lapangan untuk menelusuri siapa saja pihak yang bermain dan harus bertanggung jawab secara hukum atas masuknya komoditas ilegal ini.
Tegas Ikuti Perintah Presiden
Amran mengingatkan kembali instruksi Presiden bahwa keran impor tidak boleh dibuka sembarangan, mengingat stok beras nasional saat ini diklaim melimpah.
Ia meminta seluruh pihak patuh dan tidak mencari celah dengan berbagai dalil pembenaran.
“Bapak Presiden sudah menyampaikan bahwa tidak boleh impor karena stok kita banyak. Seluruh warga negara Indonesia apalagi aparat atau pegawai seluruh Indonesia harus patuh pada perintah panglima tertinggi,” tuturnya.
Kasus ini menjadi sorotan serius karena Indonesia menargetkan status swasembada pangan tercapai pada awal Desember pekan depan.
Amran menegaskan agar tidak ada pihak yang mencoba mengganggu momentum tersebut.
“Kita bisa sampaikan bahwa Indonesia sudah swasembada. Jangan diganggu lagi. Kalau ada, pasti kita usut,” pungkasnya.
Selain di Sabang, Kementan juga tengah mendalami informasi serupa mengenai dugaan masuknya beras ilegal di wilayah Batam, namun laporan tersebut masih dalam tahap verifikasi.
Baca Juga: Rahasia Nasi Pulen dan Empuk: Ini Cara Mencuci Beras yang Benar untuk Rice Cooker
(*Mira)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















