Waktu tersebut bisa dialihkan untuk olahraga, memasak, atau istirahat, sehingga produktivitas justru meningkat meski tinggal jauh dari gedung perkantoran.
4. Ruang Lebih untuk Menyalurkan Hobi
Gen Z dikenal memiliki hobi yang spesifik dan beragam, mulai dari mengoleksi tanaman hias, gaming, melukis, hingga memelihara hewan (anabul).
Rumah di pusat kota sering kali tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengakomodasi hal ini.
Sebaliknya, rumah di pinggiran biasanya memiliki lahan sisa yang bisa disulap menjadi studio kreatif, ruang gaming khusus, atau taman bermain untuk kucing dan anjing kesayangan.
Kebebasan berekspresi di ruang pribadi inilah yang membuat hidup terasa lebih bermakna.
5. Komunitas yang Lebih Hangat dan Tidak Individualis
Tinggal di apartemen atau perumahan padat pusat kota sering kali membuat penghuninya menjadi individualis bahkan tidak kenal tetangga sebelah pintu.
Di kawasan penyangga atau pinggiran kota, suasana kekeluargaan biasanya masih terasa lebih kental.
Interaksi sosial yang santai dengan tetangga, lingkungan yang ramah anak, dan udara yang lebih bersih menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang sulit didapatkan di hutan beton metropolitan.
Kesimpulan
Memilih rumah jauh dari pusat kota bukan berarti “terbuang”, melainkan sebuah langkah cerdas untuk memprioritaskan kualitas hidup.
Bagi Gen Z, kemewahan bukan lagi soal seberapa dekat jarak rumah ke mal, tapi seberapa tenang perasaan saat merebahkan badan di kasur setelah seharian beraktivitas.
Baca Juga: Soroti Kesehatan Mental Gen Z, Menkes Budi: Jangan Berambisi di Luar Kemampuan
(*Mira)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id














