Bye-Bye Hiruk Pikuk! Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Bahagia Tinggal Jauh dari Pusat Kota

'Bukan cuma soal harga murah, ini 5 alasan kenapa Gen Z lebih bahagia memilih rumah jauh dari pusat kota. Mulai dari mental health hingga gaya hidup slow living."
Bukan cuma soal harga murah, ini 5 alasan kenapa Gen Z lebih bahagia memilih rumah jauh dari pusat kota. Mulai dari mental health hingga gaya hidup slow living. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dulu, tinggal di pusat kota dengan akses mudah ke mal dan perkantoran adalah impian semua orang.

Namun, bagi Generasi Z, definisi “hunian idaman” mulai bergeser.

Di tengah era digital dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, banyak anak muda kini justru melirik kawasan pinggiran atau suburban sebagai tempat menetap.

Bukan sekadar karena harga properti kota yang makin “menggila”, keputusan ini ternyata didasari oleh perubahan gaya hidup.

Baca Juga: Mapan Dulu, Menikah Kemudian: Mengapa Stabilitas Finansial Jadi Harga Mati Bagi Gen Z?

Gen Z tidak lagi memuja hustle culture yang melelahkan; mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup (work-life balance) dan ketenangan.

Kenapa menjauh dari keramaian kota justru bikin Gen Z lebih happy? Berikut 5 alasannya:

1. Mendapatkan Rumah Luas dan Aesthetic dengan Harga Masuk Akal

Realitasnya, harga apartemen sempit di pusat kota sering kali setara dengan rumah tapak yang luas di pinggiran.

Bagi Gen Z yang sangat visual dan peduli estetika, memiliki rumah yang bisa didekorasi ala Pinterest atau memiliki halaman untuk bersantai jauh lebih memuaskan daripada tinggal di kotak beton tengah kota.

Di pinggiran, impian memiliki walk-in closet, dapur yang luas, atau ruang tamu yang instagramable lebih mungkin terwujud tanpa harus terlilit hutang KPR yang mencekik leher.

2. Mendukung Gaya Hidup Slow Living dan Anti Burnout

Suara klakson, macet, dan polusi udara adalah pemicu stres harian yang nyata.

Tinggal jauh dari pusat kota menawarkan suasana yang lebih tenang dan ritme hidup yang lebih lambat (slow living).

Bagi Gen Z yang rentan mengalami burnout, pulang ke rumah yang dikelilingi pepohonan atau lingkungan yang sepi adalah bentuk healing terbaik setiap harinya.

Kualitas tidur meningkat, dan bangun pagi terasa lebih segar tanpa deru mesin kendaraan yang bising.

3. Fleksibilitas WFH dan Remote Working

Pandemi mengubah segalanya.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan sistem kerja remote atau hybrid, lokasi fisik kantor bukan lagi prioritas utama.

Bagi Gen Z yang bekerja sebagai digital nomad atau freelancer, rumah adalah kantor mereka. Mereka tidak perlu membuang waktu 2-3 jam sehari untuk tua di jalan akibat macet.

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id