“Karena saya bisa fokus, saya tuh bisa berpikir dan refleksi atas apa yang sudah saya lakukan,” ucap dia.
Aktivitas fisik ini memberinya ruang sunyi untuk mengevaluasi diri.
Dr. Tirta juga menyadari pandangan yang baru tentang kesalahan. Kesalahan menurutnya bukan berarti kamu gagal menjadi manusia.
Sebaliknya, kesalahan adalah tempat untuk bertumbuh. Kesalahan membuat seseorang menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.
Ia berpendapat bahwa seseorang yang tidak pernah berbuat salah justru akan tumbuh menjadi sosok yang arogan. Ketika berada di lingkup masyarakat yang lebih luas, ia akan selalu merasa paling benar.
“Justru, karena dia tahu dia salah, dia akan berkembang. Aku tahu bahwa saat itu kayaknya aku salah pas aku gowes. Jadi aku refleksi,” ungkap dr. Tirta.
Dr. Tirta Belajar Mendengar Sebelum Berbicara
Satu hal penting yang tidak pernah dr. Tirta lupakan dari sesi bersepeda tersebut adalah belajar mendengar sebelum berbicara.
Baca Juga: Jangan Abaikan, 7 Tanda di Telapak Kaki Ini Bisa Jadi Sinyal Tubuh Kurang Vitamin
Inilah kunci utama perubahan sudut pandangnya. Dr. Tirta Belajar Mendengar karena menyadari bahwa terkadang omongan orang lain, tentang apa pun itu, tidak sepenuhnya salah.
“Itu alasan kenapa telinga ditaruh dua, dan mulut di bawah telinga. Supaya kamu mendengar dulu baru ngomong. Dulu saya ngomong dulu baru dengar. Dan sekarang saya mulai memahami sudut pandang orang lain,” jelas dr. Tirta.
Ia melanjutkan imbauannya kepada publik, “Kamu hanya percaya sudut pandang yang kamu percaya, dan menganggap sudut pandang yang berbeda sebagai kesalahan. Ini yang harus diperbaiki. Sudut pandang yang berbeda itu kadang adalah sebuah masukan.”
(*Drw)
















