Baca Juga: 40 UMKM Pontianak Kantongi Sertifikat Halal Gratis dari Pemkot
Hal ini merupakan langkah untuk memberikan semangat bagi pelaku usaha pemula agar produk mereka semakin baik.
Pemerintah kota juga terus mendorong peningkatan pemasaran produk UMKM hingga tingkat internasional.
“Sekarang ada pergeseran pola konsumtif masyarakat, terutama generasi milenial dan Gen Z, yang lebih familier dengan pemasaran online dan platform digital. Karena itu pelaku UMKM harus siap bersaing di ruang digital,” papar Wali Kota.
Edi juga mengungkapkan bahwa jejaring pemasaran menjadi kunci penting dalam memperluas pasar.
Ia mencontohkan kegiatan Car Free Day (CFD) yang rutin dipadati pedagang UMKM. Bahkan, dalam sebuah pameran besar, transaksi terbukti bisa menembus angka miliaran rupiah.
“Dari survei kita, setiap Minggu (di CFD) terjadi perputaran uang antara Rp200 juta sampai Rp300 juta. Di Borneo Fair, perputaran uang pernah mencapai 8 miliar. Ini sangat besar dan menunjukkan potensi UMKM kita,” ujarnya.
Meski demikian, Edi menilai masih ada peluang besar yang belum tergarap, yakni pusat oleh-oleh berskala besar yang terintegrasi.
“Di Bali ada Krisna, di Bandung ada Kartika Sari. Di Pontianak belum ada pusat oleh-oleh besar yang menampung produk-produk UMKM,” kata Edi.
Ia berharap workshop ini menjadi ruang saling berbagi pengalaman antarpelaku UMKM, mulai dari bahan baku hingga strategi pemasaran.
“Biasanya informasi terbaik itu muncul saat pameran, festival, dan workshop seperti ini. Silakan manfaatkan untuk berdiskusi dan mencari solusi meningkatkan produk,” pungkas Wali Kota.
(*Red/Kominfo/Prokopim)
















