Baca Juga: Mengikuti Jejak Barbie, Mainan Viral Labubu Bakal Dibikin Film oleh Sony
Namun, ada fenomena yang menarik di balik kesuksesan angka tersebut. Film ketiga ini rupanya mendapat respons yang “campur aduk”.
Dari sisi penonton, film ini mendapat nilai “B+” dari CinemaScore.
Nilai ini sebenarnya masih tergolong positif, namun menjadi sebuah catatan karena menandakan penurunan dibandingkan dua film sebelumnya, yang keduanya berhasil meraih nilai “A-” dari penonton.
Dari sisi kritikus, ulasannya pun cenderung “biasa-biasa saja”, meskipun (secara ironis) film ini tetap disebut sebagai yang memiliki ulasan terbaik di sepanjang trilogi.
Lantas, mengapa film ini tetap laku keras?
“Now You See Me” tampaknya telah menjadi salah satu waralaba yang “kebal kritik” (critic-proof).
Penonton yang datang ke bioskop sepertinya tidak terlalu peduli dengan skor di situs ulasan. Mereka datang untuk satu hal: hiburan murni.
Penonton mencari sensasi “tertipu” oleh ilusi yang cerdas, dialog yang cepat, dan chemistry para pemain yang memikat.
Lionsgate jelas memahami ini, terbukti dari keberanian mereka menggelontorkan dana Rp1,5 triliun (90 juta dolar AS) untuk menghidupkan kembali waralaba ini.
Pada akhirnya, angka Rp140 miliar di hari pertama membuktikan bahwa untuk sebuah tontonan akhir pekan, sihir, kesenangan, dan wajah-wajah familier seringkali jauh lebih penting daripada pujian kritikus.
Baca Juga: Dari Tsunami Hingga Badai: 4 Rekomendasi Film Soal Banjir yang Menegangkan
(*Mira)














