Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Tahun 2025 tampaknya benar-benar menjadi tahun keemasan bagi sinema Indonesia.
Setelah kita dibuat terpukau oleh ‘Pengepungan Di Bukit Duri’ dan ‘Jumbo’, kini giliran sutradara Kimo Stamboel yang kembali menggebrak lewat ‘Abadi Nan Jaya’ (The Elixir).
Bagi Anda yang mencari tontonan akhir pekan yang tidak biasa, film ini mungkin jawabannya. Namun, lupakan sejenak ekspektasi film horor biasa.
Kimo, yang dikenal “doyan” adegan gore, kembali dengan gaya brutalnya yang khas setelah ‘Badarawuhi Di Desa Penari’ dianggap sedikit “mendung”.
‘Abadi Nan Jaya’ adalah pengalaman sinematik yang memanjakan mata, sekaligus menguji nyali.
Ketika Zombi Lokal Tampil ‘Gahar’ dan Artistik
Bukan, ini bukan film zombi pertama di Indonesia.
Kita mungkin ingat ‘Reuni Z’ (2018), tapi ‘Abadi Nan Jaya’ bermain di liga yang sangat berbeda.
Dengan modal produksi yang terlihat jelas, Kimo Stamboel bersama tim penulisnya (Agasyah Karim dan Khalid Kashogi) berhasil menciptakan dunia yang mencekam di sebuah desa terpencil di Jawa.
Daya tarik utama film ini yang membuatnya layak jadi bahan obrolan adalah faktor artistik dan produksinya.
Pujian tertinggi patut diberikan pada tim efek tata rias yang dipimpin Astrid Sambudiono.
Mereka sukses menyulap para pemeran zombi menjadi makhluk mengerikan dengan detail luar biasa.
Bukan sekadar darah palsu yang menyembur, tapi sebuah dedikasi seni yang terlihat di layar.
Bayangkan zombi ‘warlok’ (warga lokal) yang masih mengenakan sarung atau seragam polisi, tampil begitu gahar dan meyakinkan.
Sinematografi dari Patrick Tashadian dan arahan seni Antonius Boedy juga berhasil membangun suasana.
















