Akibatnya, hari Senin sering dibebani dengan ekspektasi yang tinggi, baik dari diri sendiri maupun dari atasan, untuk menjadi produktif.
Rapat perencanaan, tumpukan email yang belum terbaca dari akhir pekan, dan daftar tugas baru yang menanti, semuanya menumpuk di hari Senin.
Beban mental untuk “memulai dengan benar” ini bisa terasa sangat berat dan memicu kecemasan sebelum hari itu dimulai.
3. “Jet Lag” Sosial dari Akhir Pekan
Banyak orang memiliki jadwal tidur yang berbeda saat akhir pekan.
Kita mungkin tidur lebih larut pada hari Sabtu dan bangun lebih siang pada hari Minggu.
Pola tidur yang tidak konsisten ini mengacaukan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh kita. Fenomena ini sering disebut “social jet lag“.
Akibatnya, saat kita harus bangun pagi di hari Senin, tubuh kita masih merasa berada di zona waktu akhir pekan.
Kita merasa lelah, lesu, dan suasana hati menjadi buruk, bukan karena kita benci pekerjaannya, tetapi karena jam tubuh kita sedang kacau.
4. Cerminan Ketidakpuasan pada Pekerjaan
Rasa benci pada hari Senin seringkali merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam: ketidakpuasan pada pekerjaan atau situasi hidup.
Jika Anda benar-benar menikmati apa yang Anda lakukan, hari Senin mungkin akan terasa menarik, bukan menakutkan.
Namun, jika Anda merasa tidak dihargai, bosan, stres berlebihan di tempat kerja, atau merasa pekerjaan Anda tidak memiliki makna, hari Senin adalah pengingat mingguan yang paling menyakitkan bahwa Anda harus kembali ke situasi yang tidak Anda sukai selama lima hari ke depan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Senin (20/10/2025) Turun ke Rp2.415.000, Cek Buyback dan Pajak
(*Mira)
















