Lemak jenis ini jauh lebih berbahaya dibanding lemak bawah kulit, karena bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.
Baca Juga: Waspada! 4 Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Biang Keladi Masuk Angin
Selain lemak visceral, postur tubuh juga bisa berperan.
“Beberapa orang terlihat buncit karena adanya lordosis lumbar atau lengkungan berlebih di punggung bawah,” kata Maria.
“Namun, sebagian besar kasus tetap disebabkan oleh pola makan tinggi kalori dan kurangnya aktivitas fisik,” lanjutnya.
Bahaya Sit Up Berlebihan di Awal Latihan
Banyak orang mengira sit up adalah cara tercepat untuk mengecilkan perut.
Faktanya, latihan ini justru bisa menimbulkan masalah jika dilakukan berlebihan, terutama pada tahap awal latihan.
Ini adalah Bahaya Sit Up Berlebihan yang sering diabaikan.
“Sit up dan crunch berlebihan bisa meningkatkan tekanan intra-abdominal, yang berisiko menyebabkan hernia atau memberi tekanan berlebih pada punggung bawah,” terang Maria.
Begitu pula dengan latihan intensitas tinggi yang dilakukan tanpa persiapan yang memadai. Tubuh yang belum siap bisa mengalami lonjakan tekanan darah mendadak dan cedera otot.
Kunci Utama: Konsistensi dan Defisit Kalori
Menurut Maria, kunci utama menghilangkan perut buncit bukan pada latihan berat, melainkan pada pembentukan kebiasaan dan peningkatan kebugaran secara bertahap.
Baca Juga: Mengapa Kram Perut Saat Haid Sangat Menyiksa? Ini 4 Jawaban Ilmiahnya
Pada tahap awal, untuk Olahraga untuk Perut Buncit yang aman, disarankan melakukan kombinasi latihan berikut:
- Aktivitas Aerobik Low-Impact seperti jalan cepat atau bersepeda.
- Latihan Core Stabilization Ringan seperti dead bug, bird dog, atau plank pendek.
- Latihan Resistensi secara bertahap setelah kondisi tubuh mulai bugar.
“Fokusnya bukan hanya pada otot perut, tapi pada peningkatan massa otot tubuh secara keseluruhan dan pencapaian defisit kalori,” kata Maria.
Mengecilkan perut buncit membutuhkan waktu, konsistensi, dan strategi yang tepat. Alih-alih mengejar hasil cepat, Maria menyarankan untuk membangun fondasi kebugaran yang kuat.
“Kalau ingin hasilnya aman dan bertahan lama, jangan buru-buru. Olahraga itu bukan hukuman, tapi investasi kesehatan,” tutupnya.
(*Drw)












