Menurut NASA, lintasannya menunjukkan bahwa objek ini berasal dari sistem bintang lain (antarbintang).
Status ini membuatnya disamakan dengan objek antarbintang lain yang sempat membuat heboh publik, yakni Oumuamua (2017) dan Borisov (2019).
Spekulasi Publik dan Respons NASA
Mengutip International Business Times, komet itu berada pada jarak terdekatnya dengan Matahari pada 20 Oktober 2025. Sementara jarak terdekatnya dengan Bumi mencapai 270 juta kilometer dan dipastikan tidak akan berdampak apapun.
Meski disebut tak berdampak untuk Bumi, 3I/ATLAS telah menarik perhatian banyak orang, bahkan ada yang berspekulasi bahwa objek itu adalah buatan alien.
Dalam tulisannya di laman Medium, ahli astrofisika asal Harvard, Avi Loeb, mengatakan objek itu patut jadi perhatian khusus, meskipun secara sederhana, dia mengatakan objek itu tetaplah sebuah komet.
Di sisi lain, ilmuwan NASA berupaya meyakinkan publik jika ATLAS memang sebuah komet alamiah. Penegasan ini disampaikan oleh Tom Statler, seorang ilmuwan senior di Divisi Ilmu Planet NASA.
“Benda itu nampak seperti komet, melakukan hal biasa seperti komet. Bukti-buktinya juga menunjukkan benda ini adalah alamiah,” jelasnya kepada The Guardian.
Data ilmiah pun mendukung hal ini. Teleskop Luar Angkasa Hubble menunjukkan koma samar dan ekor debu, yang menandakan 3I/ATLAS (yang memiliki lebar 5,6 kilometer) berperilaku seperti komet pada umumnya.
Sementara itu, Teleskop Luar Angkasa James Webb mencatat bahwa koma komet mengandung kadar karbon dioksida yang tinggi, sementara aktivitas es air-nya relatif rendah.
(*Red)












