Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Film “Home Sweet Loan” (2024) yang diadaptasi dari novel populer Almira Bastari, berhasil menyentuh luka kolektif yang selama ini terpendam: perjuangan sandwich generation.
Namun, di balik kisah Kaluna (Yunita Siregar) yang berjuang membeli rumah, film ini juga secara cerdas membongkar bagaimana sistem patriarki yang “gagal” menciptakan bebannya sendiri.
Film ini bukan sekadar drama keluarga; ia adalah studi kasus sosial tentang bagaimana tuntutan ekonomi dan ekspektasi budaya bisa menghancurkan seseorang.
Inilah pembelajaran utama tentang budaya generasi sandwich dan patriarki yang disajikan dalam “Home Sweet Loan“.
Baca Juga: Merasa Tertinggal? 5 Lagu Ini Mengerti Kerasnya Prosesmu yang Panjang
1. Pembelajaran: ‘Generasi Sandwich’ sebagai Normalitas yang Kejam
Film ini tidak memperlakukan sandwich generation sebagai anomali, tetapi sebagai sebuah normalitas yang dijalani Kaluna.
Ia adalah potret sempurna: seorang anak bungsu yang terjepit di antara kewajiban menafkahi keluarga intinya (orang tua) dan ikut menanggung beban hidup kedua kakaknya yang sudah berkeluarga (beserta anak-anak mereka) dalam satu atap.
Pembelajaran terbesarnya adalah visualisasi dari beban tak terlihat.
Kita melihat Kaluna bekerja keras, mengambil kerja sampingan, dan berhemat ekstrem, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk “menambal” segala kebutuhan rumah.
Ironisnya, mimpinya (membeli rumah) justru dianggap sebagai tindakan egois oleh keluarganya, sebuah ironi pahit yang dialami banyak “tulang punggung” di dunia nyata.
2. Pembelajaran: Patriarki yang Gagal dan “Pewarisan Beban”
Sekilas, film ini mungkin tampak “modern” karena perempuan (Kaluna) adalah pencari nafkah utama.
Di sinilah letak kritik tajamnya.
“Home Sweet Loan” tidak menunjukkan patriarki di mana pria berkuasa, melainkan patriarki yang telah “gagal”.
Tokoh-tokoh pria dalam keluarga (ayah dan kedua kakak laki-lakinya) gagal memenuhi peran tradisional mereka sebagai pelindung atau pencari nafkah.
Namun, sistem patriarki tidak lantas hilang; ia hanya melimpahkan bebannya.
Siapa yang menanggungnya? Tentu saja, anak perempuan.
















