Kasat Reskrim Polres Kayong Utara, Hendra Gunawan, menyebut pihaknya berhasil mengulik motif kematian Mirawati sebelum KN meninggal.
Menurutnya, KN masuk ke mess korban dengan tujuan untuk mencuri, namun aksinya diketahui korban.
“Berdasarkan keterangan tersangka, dia masuk ke rumah korban Mirawati dengan maksud mencuri. Namun korban terbangun dan langsung menarik baju tersangka. Saat itu, tersangka langsung menusukkan pisaunya secara membabi buta ke arah korban,” ungkap Hendra Gunawan saat dikonfirmasi, Rabu (29/10/25).
Hendra juga mengatakan bahwa menurut pengakuan KN, dirinya tidak mengetahui bagian tubuh mana dari korban yang terkena tusukan karena kondisi saat itu gelap akibat mati lampu.
Baca Juga: Satsamapta Polres Kayong Utara Laksanakan Patroli Keamanan di Operasi Pasar Sukadana
“Ia menusuk secara acak,” tambahnya.
Hendra menyampaikan, dengan meninggalnya pelaku, proses hukum perkara tersebut akan dihentikan (SP3).
“Jika pelaku meninggal dunia, maka perkara akan SP3. Namun misteri meninggalnya Mirawati sudah terpecahkan. Pelaku serta motifnya juga telah terungkap,” pungkasnya.
Jasad KN Diserahkan ke Keluarga
Hendra menyebut pihaknya sudah menyerahkan jenazah KN kepada keluarga.
Jenazah diantar ke rumah duka di Dusun Pematang Rimba, Desa Teluk Mutiara, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang.
“Iya benar. Barusan kami serah terima jenazahnya. Pihak keluarga menerima ikhlas,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa KN meninggal dunia dikarenakan mengalami pendarahan. Sebelum meninggal, KN sempat kritis dan dirawat di RSUD Gusti Abdul Gani, Lamandau.
“Setelah ditangkap, sekitar pukul 11.00 WIB tersangka dibawa ke RSUD Gusti Abdul Gani Lamandau untuk dilakukan perawatan. Namun pada Rabu pukul 00.15 WIB pelaku dinyatakan kritis, dan pada pukul 00.30 WIB meninggal dunia akibat pendarahan,” jelasnya.
Baca Juga: Satuan Samapta Polres Kayong Utara Patroli Sambang Kamtibmas Minggu Pagi, Ciptakan Rasa Aman
Keluarga Korban Ungkap Kejanggalan
Di sisi lain, ibu korban, Jaitun, menilai banyak kejanggalan dalam peristiwa yang merenggut nyawa anaknya. Ia mengaku sulit memahami penjelasan bahwa pelaku hanya berniat mencuri.
“Kalau betul dia mau mencuri, kenapa hanya anak saya yang jadi korban? Di mes itu ada dua orang, tapi yang satu tidak apa-apa. Barang-barang lain tidak diambil, motor anak saya yang dicuri malah dibakar. Tak masuk di akal kalau cuma mau mencuri,” ungkap Jaitun, Rabu (29/10/25).
Jaitun juga mempertanyakan mengapa dirinya tidak pernah mendapat pemberitahuan resmi dari polisi mengenai penangkapan hingga kematian pelaku.
“Kami tahunya dari orang lain, bukan dari polisi. Kami ingin tahu benar, kenapa bisa meninggal. Jangan-jangan dia tidak sendiri,” ujarnya curiga.
Ia bahkan sempat berpesan agar pelaku ditangkap dalam keadaan hidup untuk ditanyai langsung motifnya.
“Saya juga sudah pesan, kalau pelakunya ketemu jangan langsung diapa-apakan. Tangkap hidup-hidup saja, saya ingin tahu kenapa anak saya sampai dibunuh begitu sadis,” tuturnya.
Kejanggalan lain, lanjut Jaitun, adalah lokasi kejadian yang telah dibersihkan tanpa sepengetahuan keluarga.
“Pas kami datang, darahnya sudah hilang, dindingnya sudah dicat. Padahal belum ada kejelasan apa-apa. Kami merasa ada yang ditutup-tutupi,” katanya.
Meski polisi menyatakan perkara akan dihentikan, Jaitun berharap penyelidikan tetap dilanjutkan karena ia menduga pelaku tidak bertindak seorang diri.
“Saya belum bisa terima sebelum tahu seluruh kebenarannya. Selama itu belum jelas, hati saya tidak akan tenang. Tak mungkin dia sendirian. Saya yakin ada orang lain di balik semua ini,” pungkasnya.
(ra)
















