Kenaikan itu dipicu setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan sanksi terhadap perusahaan energi besar Rusia, termasuk Lukoil dan Rosneft, terkait konflik Ukraina.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Pasca Sanksi Baru AS terhadap Rusia
Namun, kini pasar mulai meragukan efektivitas sanksi tersebut dalam mengimbangi potensi kelebihan pasokan.
Sementara itu, Kremlin menegaskan bahwa Rusia tetap menawarkan energi “berkualitas tinggi dengan harga kompetitif,” dan menyerahkan keputusan pembelian sepenuhnya kepada negara mitra.
Dari sisi pasokan, sentimen negatif datang dari OPEC+. Empat sumber yang mengetahui diskusi internal menyebut OPEC+ tengah mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari pada Desember mendatang.
CEO Saudi Aramco menyebut permintaan minyak global masih tetap kuat, terutama dari China. Namun, analis menilai tekanan utama tetap datang dari sisi kebijakan moneter.
Memasuki paruh kedua pekan ini, pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve AS serta hasil pertemuan antara pemimpin AS dan China, yang dinilai akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dunia dalam jangka pendek.
(*Red)















