Pasar Minyak Bergejolak: Stok AS Turun Drastis, Rencana OPEC+ Naik Produksi

Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak pasca sanksi baru AS terhadap raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, Kamis (23/10/2025).
Ilustrasi: Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak dunia terkoreksi pada Rabu (29/10/2025) pagi meski stok AS dilaporkan turun. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Harga minyak dunia kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (29/10/2025) pagi waktu Indonesia, setelah sempat menguat di awal pekan.

Pelemahan ini terjadi secara mengejutkan, mengabaikan laporan terbaru yang menunjukkan penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang signifikan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat Didorong Optimisme Kesepakatan Dagang AS-China

Pelemahan harga ini didorong oleh kekhawatiran pasar yang lebih besar terhadap dua faktor: potensi sanksi baru bagi Rusia dan sinyal rencana peningkatan produksi dari OPEC+.

Mengutip data Refinitiv pada pukul 10.00 WIB, harga minyak Brent tercatat melemah 0,14% ke posisi US$64,31 per barel, dari sebelumnya US$64,40 per barel.

Sementara harga West Texas Intermediate (WTI) turun 0,22% ke US$60,02 per barel, dibandingkan sehari sebelumnya di US$60,15 per barel.

Stok AS Turun, Harga Tak Terangkat

Pelemahan tipis ini terjadi meskipun laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan data yang seharusnya bullish (mendukung kenaikan harga). Stok minyak mentah AS dilaporkan turun 4,02 juta barel untuk pekan yang berakhir 24 Oktober.

Penurunan juga terjadi pada stok bensin yang menyusut 6,35 juta barel dan stok distilat yang berkurang 4,36 juta barel.

Menurut catatan Haitong Securities, data ini memang sempat memicu reaksi sesaat di pasar.

“Penurunan stok yang lebih besar dari perkiraan memicu lonjakan harga jangka pendek,” namun dorongan tersebut cepat teredam oleh faktor geopolitik dan prospek pasokan baru.

Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai bahwa ruang kenaikan harga saat ini memang terbatas.

“Kisah sanksi dan pasokan memperkuat harga, tapi sisi permintaan masih lemah dan kapasitas cadangan global masih besar,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Sanksi Rusia dan Rencana OPEC+

Pekan lalu, harga Brent dan WTI sempat mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni.