Jokowi juga menegaskan bahwa proyek transportasi massal pada prinsipnya adalah layanan publik, bukan proyek untuk mencari keuntungan finansial.
“Prinsip dasar transportasi massal adalah layanan publik. Bukan mencari laba, tapi keuntungan sosial, social return on investment,” ucap Jokowi.
Keuntungan sosial yang dimaksud, jelasnya, meliputi penurunan emisi karbon, peningkatan produktivitas masyarakat, penurunan polusi, dan efisiensi waktu tempuh.
Mengenai polemik utang yang disebut tidak akan ditanggung APBN oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Jokowi enggan memberi tanggapan.
“Itu kewenangan pemerintah. Saya enggak mau jawab,” ujarnya singkat.
Ia pun membandingkan subsidi transportasi di Indonesia dengan negara-negara maju yang juga memberikan subsidi besar untuk layanan publik serupa.
“Di Korea, China, Jepang, bahkan di Eropa seperti Metro Paris dan London Underground, subsidi bisa mencapai 50 persen. Jadi ini hal yang wajar,” katanya.
Meski perhitungan kerugian sudah diprediksi sejak awal, Jokowi optimistis kinerja finansial Whoosh akan membaik seiring meningkatnya jumlah penumpang dalam 5 hingga 6 tahun mendatang.
Baca Juga: Jokowi Respons Isu Mark Up Whoosh: Ini Layanan Publik, Bukan Cari Laba
(*Mira)
















