Kisah Heroik ‘Bangun Pemudi Pemuda’: Lagu Pembakar Semangat yang Diciptakan dengan Taruhan Nyawa

"Diciptakan di era Jepang dengan taruhan nyawa. Simak sejarah dan makna mendalam lagu "Bangun Pemudi Pemuda" karya Alfred Simanjuntak yang abadi."
Diciptakan di era Jepang dengan taruhan nyawa. Simak sejarah dan makna mendalam lagu "Bangun Pemudi Pemuda" karya Alfred Simanjuntak yang abadi. (Dok. Ist)

Ia dituduh menghasut para pemuda untuk memberontak.

Beruntung, ia selalu berhasil lolos dan lagu ciptaannya terus menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pelajar.

Makna di Balik Lirik yang Abadi

Kekuatan lagu ini tidak hanya pada sejarahnya, tetapi pada liriknya yang visioner dan relevan sepanjang masa.

“Bangun Pemudi Pemuda Indonesia…”

Satu hal yang unik adalah Alfred Simanjuntak menempatkan kata “Pemudi” (perempuan) sebelum “Pemuda” (laki-laki). Di era 1940-an, ini adalah sebuah langkah yang sangat progresif.

Ini menunjukkan visinya tentang kesetaraan gender, bahwa perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam membangun bangsa.

“Lengan bajumu singsingkan untuk negara…”

Ini adalah inti dari lagu tersebut.

Lagu ini bukan sekadar teriakan “Merdeka!”, melainkan sebuah call to action atau panggilan untuk bekerja.

Sumpah Pemuda adalah ikrar, dan lagu ini adalah tindak lanjutnya: apa yang akan kamu lakukan setelah berikrar? Jawabannya adalah “bekerja keras”.

“Kewajibanmulah menanggung warisan…”

Alfred Simanjuntak mengingatkan bahwa kemerdekaan (yang saat itu masih diperjuangkan) bukanlah hadiah, melainkan warisan yang berat.

Menjadi pemuda berarti siap memikul tanggung jawab, bukan hanya menuntut hak.

Lagu “Bangun Pemudi Pemuda” adalah pengingat abadi bahwa patriotisme bukanlah tentang seberapa keras kita berteriak, tetapi seberapa keras kita mau bekerja.

Ia adalah warisan dari seorang guru yang mempertaruhkan nyawanya agar generasi setelahnya tidak lupa akan kewajiban mereka terhadap negara.

Baca Juga: Kumpulan 30 Ucapan Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025, Cocok untuk Media Sosial

(*Mira)